Serambi Seribu Serbi

space disewakan

Sudahlah, Maafkan saja



Sudahlah, Maafkan saja
Bayangkan Anda sedang menghadiri pesta yang amat meriah. Semua orang tampil dengan pakaian terbaik. Makanan yang dihidangkanpun tampak lezat dan mengundang selera. Saat Anda antre untuk mengambil makanan, tiba-tiba seseorang yang sangat Anda percaya berbisik di telinga Anda, ''Hati-hati, banyak makanan tak halal disini, bahkan ada beberapa yang beracun!''
Saya berani menjamin Anda akan mengurungkan niat mengambil makanan. Boleh jadi Anda pun langsung pulang ke rumah. Anda benar, hanya orang bodohlah yang mau menyantap makanan tersebut. Kita tak mau makan sembarangan. Kita sangat peduli pada kesehatan kita.
Anehnya, kita sering -- bahkan dengan sengaja -- memasukkan ''makanan-makanan beracun'' ke dalam pikiran kita. Kita tak sadar bahwa inilah sumber penderitaan kita. Salah satu makanan yang paling berbahaya tersebut bernama: ketidakmauan kita untuk memaafkan orang lain!
Ketidakmauan memaafkan adalah penyakit berbahaya yang menggerogoti kebahagiaan kita. Kita sering menyimpan amarah. Kita marah karena dunia berjalan tak sesuai dengan kemauan kita. Kita marah karena pasangan, anak, orang tua, atasan, bawahan, dan rekan kerja, tak melakukan apa yang kita inginkan. Lebih parah lagi, kita memendam kemarahan ini berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.
Memang banyak sekali kejadian yang memancing emosi kita. Pengendara motor yang memaki kita, mobil yang menyalib dan hampir membuat kita celaka, orang yang membobol ATM kita, adik yang sering minta bantuan tapi tak pernah mengucapkan terima kasih, pembantu yang membohongi kita, maupun bos yang pelitnya luar biasa. Kita mungkin berpikir bahwa orang-orang tak tahu diri ini sudah sepantasnya kita benci. Tapi kita lupa bahwa kebencian yang kita simpan hanyalah merugikan kita sendiri.
Sudah menjadi tabiat manusia, tatkala hatinya disakiti, dia akan merasa sakit hati dan boleh jadi berujung dengan kedendaman. Walaupun demikian, bukan berarti kita harus dendam setiap kali ada yang menyakiti. Malah sebaliknya, jika kita dizalimi, maka doakanlah orang-orang yang menzalimi itu agar bertaubat dan menjadi orang saleh. Mampukah kita melakukannya?
Para Nabi-Nabi adalah sosok yang hatinya bersih dari sifat dendam. Walau ia dihina, dicacimaki, difitnah, bahkan hendak dibunuh, tak sedikit pun ia mendendam. Bahkan, ia mati-matian berbuat baik kepada orang-orang tersebut dan begitu ringannya ia memaafkan.
Penelitian menunjukkan ketidakrelaan memaafkan orang lain memiliki dampak hebat terhadap tubuh kita: menciptakan ketegangan, mempengaruhi sirkulasi darah dan sistem kekebalan, meningkatkan tekanan jantung, otak dan setiap organ dalam tubuh kita. Kemarahan yang terpendam mengakibatkan berbagai penyakit seperti pusing, sakit punggung, leher, dan perut, depresi, kurang energi, cemas, tak bisa tidur, ketakutan, dan tak bahagia.
Baru-baru ini saya sempat berinteraksi dengan sekelompok mahasiswa yang mengeluhkan perasaan tertekan dan tak bahagia. Ternyata, kebanyakan dari mereka memendam berbagai kemarahan, baik kepada orang tua maupun orang-orang di sekitar mereka. Salah seorang mengaku telah 10 tahun memendam kebencian kepada wanita yang menjadi istri kedua ayahnya. Si ayah yang dijuluki orang paling sholeh di kantornya tanpa diduga mempunyai ''simpanan.'' Wanita ini kemudian dinikahinya, dan akhirnya meninggal karena stroke lima tahun lalu. Tapi, kemarahan dan kebencian si anak hingga kini belum juga mereda.
Musuh kita sebenarnya bukanlah orang yang membenci kita tetapi orang yang kita benci. Ada cerita mengenai seorang lelaki bekas tapol di zaman Orde Baru yang mengunjungi kawannya sesama eks tapol. Sambil mengobrol si kawan bertanya, ''Apakah kamu sudah melupakan rezim Orde Baru?'' Jawabnya, ''Ya, sudah.'' Si kawan kemudian berkata, ''Saya belum. Saya masih sangat membenci mereka.'' Lelaki itu tertawa kecil dan berkata, ''Kalau begitu, mereka masih memenjara dirimu.''
kita harus terus berlatih untuk mengikis sifat dendam tersebut. Sebagai ilustrasi, kita bisa belajar dari para karateka yang berhasil menghancurkan batubata dengan tangannya. Pertama kali memukulnya, bata tersebut tidak langsung hancur. Tapi, dia tak patah semangat. Diulanginya terus usaha untuk menghancurkan bata tersebut. Akhirnya, pada pukulan kesekian, pada hari kesekian, bata tersebut berhasil dihancurkan. Memang, tangannya bengkak-bengkak, tetapi dia mendapatkan hasil yang diinginkan.
Begitu pula dengan hati. Jika hati dibiarkan sensitif, maka hati ini akan mudah sekali terluka. Akan tetapi, jika hati sering dilatih, maka hati kita akan semakin siap menghadapi pukulan dari berbagai arah. Jika kita telah disakiti seseorang, kita jangan melihat orang tersebut, tetapi lihatlah dia sebagai sarana ujian dan ladang amal kita terhadap Yang Maha Kuasa. Kita akan semakin sakit, tatkala melihat dan mengingat orangnya.
Untuk mencapai kebahagiaan, kita perlu mengubah cara pandang kita. Sumber kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri, bukan di luar. Karena itu jangan terlalu memusingkan perilaku orang lain. Sebaliknya, belajarlah memaafkan. Kunci memaafkan adalah memahami ketidaktahuan. Banyak orang yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Kalaupun mereka sengaja melakukannya, itupun karena mereka sebenarnya tak tahu. Mereka tak tahu bahwa kejahatan bukanlah untuk orang lain tetapi untuk mereka sendiri.
Orang yang suka memaki dan bersikap kasar sebenarnya tak menyadari bahwa mereka sedang menzalimi dirinya sendiri. Suatu ketika ia akan kena batunya. Inilah konsekuensi logis dari hukum alam.
Mempraktikkan konsep memaafkan akan membuat hidup lebih ringan. Saya ingat, saat sedang duduk menunggu anak saya sekolah pada minggu lalu, seorang ibu yang lewat menubrukkan tasnya yang cukup berat ke kepala saya, tanpa permisi apalagi minta maaf. Orang-orang yang melihat kejadian itu menggeleng-gelengkan kepala sambil mencela kecerobohannya. Saya mencoba mempraktikkan konsep ini, dan langsung memaafkannya. Ibu itu kelihatannya sedang kalut. Tak mungkin ia sengaja menabrak saya begitu saja.
Jika kita menjadi lebih baik, Tuhan tentu akan memuliakan kita. Jika Tuhan sudah memuliakan, maka kita tidak akan menjadi hina karena hinaan orang lain. Untuk mencapai kebahagiaan, berikanlah maaf kepada orang lain. Hentikan kebiasaan menyalahkan orang lain. Ingatlah, kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Hanya Allah-lah yang Maha Suci dan Maha Sempurna. Saya menyukai apa yang dikemukakan Gerarld G Jampolsky dalam bukunya Forgiveness, The Greatest Healer of All. ''Rela memaafkan adalah jalan terpendek menuju Tuhan.'' Itulah kunci kemuliaan diri.

M. SURYO TUNGGAL 
[Read More...]


LANGIT DI DESA RUBUH OLEH ILMU KAUM INTELEKTUAL



Begitu pulang di bulan Ramadhan untuk berkumpul dengan keluarga di desa, Liima Intelektual Muda yang bertahun-tahun kuliah di kota segera berembug untuk mengadakan diskusi Ilmiah terhebat yang akan dihadiri oleh masyarakat desa. Mereka segera menghubungi Pak Lurah.

"Tetapi Balai Desa sudah dua bulan ini tak kami pakai. Tempat itu sudah rapuh. Kami khawatir bunyi sound system yang keras akan mempengaruhi ketahanan atapnya", jelas pak Lurah khawatir..

Namun mereka tetap bersikeras. Hingga dengan berat hati Pak Lurah mengijinkan. Undangan-pun segera disebar, dengan tema wacana yang mentereng, "Diskusi Ilmiah Bulan Ramadhan : Menggedor Tradisi Intelektual Di Desa Menuju Masyarakat Kritis, Filosofis dan Berperadaban".

Para orangtua dan masyarakat desa antusias hadir untuk melihat kepintaran Lima Intelektual Kota. Mereka duduk pada jajaran kursi yang ditata didepan, sementara masyarakat desa yang menjadi "murid" duduk lesehan pada gelaran panjang karpet merah usang.

Dan segera, diskusi yang bergemuruh di mulai. Seluruh masalah kontroversial (yang menurut mereka "urgent banget" dan masyarakat wajib segera disadarkan) dibicarakan dengan berapi-api. Suara sound system begitu keras mengalun hingga menyentuh ujung dusun. Dan benar, saking ributnya berpolemik, mereka abai terhadap suara gemeretak lamat-lamat yang berasal dari langit-langit.

> Satu menit, orang-orang desa mulai beringsut ke pinggir.
> Dua menit, para intelektual muda di depan malah hanya memandang bengong pada orang-orang yang menyingkir dari tengah ruangan.
> Dan tiga menit berikutnya atap balai desa itu ambrol. Sebagian pecahan kayu mental dari lantai menimpa beberapa orang. Tak ada korban tewas, tapi beberapa orang terluka.

Segera setelah rubuhan reda. masyarakat desa itu berjibaku untuk membersihkan tempat yang porak poranda sekaligus menolong mereka yang terluka. Anehnya, lima Intelektual Muda itu masih saja terkesima. Tercengang. Dan tak berbuat apa-apa.



"Benar-benar Ilmu yang mantab. Ilmu kalian mampu merubuhkan langit-langit balai desa sehingga menimpa tubuh kami. Kini, hanya satu pertanyaan dari kami setelah diskusimu usai, apakah tangan dan kaki kalian sigap menolong orang yang terluka diruangan ini, sesigap lidah kalian berdebat ?", tanya Pak Lurah sambil memandang takjub kepada mereka.

O, bapak .... telinga dan otak mereka sudah penuh sesak dengan wacana "Hang Hing Hog Cang Cing Cong" selama bertahun-tahun diperkuliahan. Dan oleh karenanya, indra mereka tumpul untuk selekasnya menyadari realitas, dan membaca apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh masyarakat lewat kerja nyata. Mereka semua cerdas secara kognitif, tapi mereka sungguh buta dalam hal Kecerdasan Ekologi untuk cepat menyadari dan lantas bertindak guna membantu dan merubah lingkungannya sendiri.

Syarif KBM
[Read More...]


Renungan Negeri Heuheuheu



Kalatida in Laiden by Wiki

Kelompok Ashin Wirathu Ekstrimis Budha itu Wahabinya Budha atau berposisi sama dengan ISIS. Ketakutan kelompok Ashin Wirathu pada Muslim Rohingya jika nanti Akan melahirkan ISIS baru di negara Myanmar. Atas nama Nasionalisme, Mereka membantai Umat Muslim. Heuheuheu
Tidak lepas dari ketakutan, kekhawatiran, imajinasi jika nanti Myanmar akan seperti Iraq, Suriah dan Yaman. ISIS adalah virus yang sangat dikhawatirkan oleh semua pihak. Kelompok-kelompok Yang awalnya moderat pada perbedaan, berubah menjadi "ekstrim" pada perbedaan. Tidak dipungkiri bahwa ini akibat ISIS ditimur tengah yang mereka (Budha Wirathu) takutkan akan terjadi pada mereka. Sebelum itu terjadi, dengan alasan Nasionalisme, muslim pun harus diperangi dan terusir. Heuheuheuheu
Kemana Dalai Lama? Tokoh yang sangat berpengaruh itu. Ingat, saat kekacauan di Suriah. Terdapat Satu ulama moderat, Ramadhan Bouthi. Posisi yang persis dengan Dalai Lama saat ini. Tokoh berpengaruh seperti mereka tidak akan mampu melakukan apa-apa kecuali menunggu dengan sendirinya terhenti. Atau, Dalai Lama akan mengalami apa yang dialami oleh Ramadhan Bouthi. Tapi, itu terlalu jauh. Sejauh Aung San Suu Kyi bersembunyi. Heuheuheuheu.
Kenapa Budha Wirathu Brutal? Padahal Budha sangat menjunjung kebijaksanaan. Lha, Bukankah Islam juga menjunjung kebijaksanaan? Alqur'an selalu menyebut itu berulang kali "Hikmah" (Bijaksana). Apa yang terjadi di Rohingya harus adil untuk diamati. Biar nanti suara kita yang keluar mengutuk agama Budha tapi lupa mengutuk ISIS. Heuheuheuheu
Website-website "Islam" secara vokal mengutuk agama Budha Myanmar. Bahkan beberapa kelompok atas nama "Islam" melakukan unjukrasa dengan membakar patung-patung Biksu. Lha, apa mereka Lupa apa yang ISIS lakukan pada umat Kristiani di Iraq? Memenggal, membakar, menghancurkan Rumah dan situs-situs beraejarah lainnya. Umat Kristiani bahkan tidak melakukan demo besar-besaran sambil membakar patung Abubakar Baghdadi. Gimana mau dibakar, nanti dituduh melecehkan atribut Agama Islam. Karena bagi mereka, Jenggot, Sorban dan Gamis itu adalah atribut Suci Islam. Mereka Lupa Abu Jahal pun memakai itu. Heuheuheu
Intinya, kekacauan-kekacauan atas nama agama lebih tampak kepermukaan sejak ISIS tampak di dunia. Ekstrimis Budha bermunculan di negara Mayoritas Budha. Di Indonesia, mayoritas Islam sedang digoyahkan oleh mereka yang anti keberagaman. Gencar mengangkat isu Jihad atas nama membela agama Allah dan Rasul. Heuheueheu
Jika Indonesia terjadi seperti apa yang terjadi di Timur tengah atau Miyanmar, berkuasanya kaum agama yang ekstrimis, maka anggaplah dunia sudah berakhir. Karena, Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan kebersamaan dalam keberagaman, menampung byk aliran kepercayaan lokal dan agama. Jika semua ini hancur, bagiku, ini sudah menjadi tanda yang cukup bahwa semua akan berakhir seperti JanjiNya. Heuheuheu
Yang perlu kita lakukan: 1. Memandang apa yang terjadi di Rohingya adalah akibat terjangkitnya virus ISIS. 2. Kecamlah ekstrimis Budha, kecamlah dengan Adil, sebab tak semua umat Budha setuju dengan Budha Wirathu. 3. Kecamlah ISIS yang menyebabkan ini semua. Karena, ketakutan agama-agama lain bermunculan.
Mereka yang vokal mengecam Budha tapi mereka diam dengan tindakan ISIS bahkan menyebut sebagai "Mujahidin" berarti mereka bibit potensi yang dapat tumbuh sebagai benalu di Negeri ini. PANGKAS MEREKA!!!!
Semoga Indonesia baik-baik saja.

Sayyed Fadel
[Read More...]


Kaos Travelling Nan Ciamik "TOP SELLER"



Kali ini postingan blog akan sedikit berbeda dari biasanya. Lama nian tak posting, ah apalah daya. Sudah dua bulan perjanjian advertising dibalik layar dengan pengusaha kaos ternama berinisial Dede domisili Jogja, hehe semoga affiliatenya berjalan terus.

Langsung saja termasuk strategi pemasaran, dengan modal minim ilmu marketing. Kamu tahu kan kaos “My Trip My Adventure” yang lagi ramai digandrungi anak abegeh jaman sekarang? Apalagi kaos travelling missal Jalan- Jalan men, NatGo dan masih banyak yang lain. Yaps juragan kaos yang satu ini jualan kaos travelling & fotogari dan masih banyak model lainnya berkualitas distro. Bahkan kamu bisa pesan kaos desain sendiri, atau gambar favorit sesuai kesepakatan. hasil sudah teruji dijamin 100%.

Intinya berani tampil beda dengan kaos unik pecinta adventure itu merupakan kekhasan tersindiri, perlambang siapa sih kamu? Etss kepingin kan? Huhui nih untuk pemesanan dapat langsung kontak via BBM abangnya yg baik hati nan elegan tak perlu jual mahal 5370DA65 atau bisa tepe- tepe (etdah bahasa planet) call/ sms di 087839468494 fast respon dah.




 Perlu kaos seperti pada gambar di atas atau untuk acara tertentu seperti promosi, untuk komunitas Anda seperti klub motor, pecinta alam, klub bola, dll ? hubungi kami (bang Dede bukan mizwar ). Kami juga menyediakan kaos oblong dengan kualitas bagus berbagi warna dan ukuran, harga grosir  berani bersaing.

Gue  tantang elo tampil beda dengan kaos unik dengan desain buatan anda sendiri berani? Tidak usah repot. Tinggal angkat gadgetmu, putar ke nomor 087839468494, atau kirim pesan via BBM kalau ndak mau ribet langsung komen dikolom komentar biar saya bantu nyenggol penunggunya? Hehe sekian.



[Read More...]


Batalnya Google Melarang Konten Dewasa di Blogger



Batalnya Google Melarang Konten Dewasa di Blogger- memperkirakan berapa jumlah penggiat blog berstatus konten dewasa yang meminjam jasa blogger? tanda tanya besar karena akhirnya Google membatalakan aturan mengenai dilarangnya konten dewasa di Blogger!




End, Google menarik kembali peraturan barunya yang sebenarnya sudah direncanakan dan disebarkan tentan pelarangan menggunakan blogger untuk kepentingan akan konten dewasa tersebut, acap kali kita login akan muncul di halaman Dashboard setiap pengguna Blogger.


Jessica Pelegio, seorang produk manager di Google seperti yang dikutip The guardian menyatakan bahwa

Banyak tanggapan yang masuk, terutama soal perubahan besar-besaran ini. Beberapa blogger sudah mempunyai akun sejak 10 tahun yang lalu.


Akhirnya Google memutuskan membatalkan pemblokiran dan pelarangan memakai Blogger untuk konten dewasa, dan kembali memakai aturan lama. Konten dewasa dilarang untuk keperluan komersial. Kemungkinan Google beralasan dalam hal ini Blogger tidak mau kehilangan penggunanya yang memiliki kontent dewasa? Bahkan ada yang telah bertahun-tahun menggunakan layanan mereka yang dikhawatirkan akan beralih ke platform / layanan lain seperti Wordpress?

Bisa jadi demikian. Ini kan masalah pengguna yang menggunakan layanan Google yaitu Blogger, tentu ini bisa jadi prestige tersendiri dan menunjukkan kesuksesan mereka dalam dunia internet.

Masih menurut Pelegio

Pemilik blog harus memnandai dengan tanda 'adult' jika blognya mempunyai konten dewasa, jadi postingan  akan disimpan di dalam 'adult content'.

yah dan akhirnya hanya bisa berpesan: gunakanlah blogger untuk hal- hal positif misal kegiatan nyangkul atau berladang, hehe. Misal kedewasaan tak terbendung, tempatkanlah sesuai tempatnya.

Salam Blogger Indonesia 
[Read More...]


Tahun Baru Bersama Mustofa Bisri



Di Awal tahun masehi ini, kita disuguhi dengan berbagai macam musibah besar, Seperti Jatuhnya pesawat lokal yang memakan banyak korban, apakah kita masih sempat merayakannya kepiluan ini, kalut mungkin bukan pilihan kata yang tepat, sebaiknya daripada diterusin malah kagak nyambung yuk kita sruput aja karyanya Gus Mus. Sebagi seorang sastrawan, tak henti- hentinya simbah kakung kita terus berkarya, mari dinikmati karya beliau dibawah ini dengan indahnya berbagi.


// dari hari ke hari/bunuh diri pelan pelan/ dari tahun ke tahun/ 
bertimbun luka di badan/ maut menabungKu segobang segobang

(“Hemat” Sutardji Calzoum Bachri) // 



Saya tak pernah betul-betul memahami, mengapa orang –khususnya di kota-kota--selalu menyambut Tahun Baru dengan suka ria. Pesta-pesta dan hura-hura untuk memeriahkan pergantian tahun dilangsungkan dimana-mana bahkan sering kali dengan menghamburkan uang yang tidak sedikit. Apakah itu sekedar mengikuti tradisi yang sudah berjalan atau merupakan naluri dari kesenangan manusia terhadap sesuatu yang baru. Senang Tahun Baru seperti senang kepada baju atau sepatu baru, atau naluri senang kepada peningkatan dan pertambahan. Tahun kita kemarin hanya 2003, kini menjadi 2004; ada pertambahan dan peningkatan satu angka. Atau ada kaitannya dengan rasa tafa-ul seperti orang menyambut menyingsingnya matahari yang menjanjikan pagi yang cerah setelah gelap malam? 





Padahal bukankah tahun baru justru berarti pengurangan terhadap umur kita? Apakah kita tidak menyadari hal ini? Ataukah kita memang bergembira setiap umur kita berkurang, karena umur yang kita ‘tabung’ memang cukup bernilai untuk kita petik kelak di saat kita sangat memerlukan? Kalau demikian, bukankah momentum tahun baru merupakan ketika paling baik untuk merenungkan dan mengevaluasi umur yang telah kita pakai bagi peningkatan kualitas penggunaannya pada masa-masa mendatang? 
Kehidupan yang monoton dan rutin yang kita jalani dengan terus begitu-begitu saja, di samping cenderung menjenuhkan, dapat membuat kita tidak menyadari keterbatasan umur kita dan pada akhirnya kematian pun selalu terasa mendadak. Apabila kemonotonan dan kerutinan itu pada amal yang baik, Alhamdulillah, malah ini mungkin yang disebut istiqamah. Tapi apabila sebaliknya, na’udzu billah.



Mereka yang terus menerus melecehkan hukum misalnya, apakah tidak khawatir kehabisan umur ketika sedang melecehkan hukum? Mereka yang terus menerus melakukan korupsi, apakah tidak khawatir pada waktu korupsi tiba-tiba umurnya habis? Mereka yang terus menerus jual tampang menipu rakyat, apakah tidak khawatir tiba-tia terhenti bagaikan mobil yang kehabisan bensin ketika sedang asyik menipu? Mereka yang terus bertikai dengan saudara sendiri, apakah tidak khawatir tiba-tiba ludes umurnya sebelum menyadari keremeh-temehan alasan mereka bertikai? Demikian sederet pertanyaan serupa bisa diajukan kepada siapa saja yang secara ‘rutin’ melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain seperti melakukan kewajaran. 



Pertanyaan itu diajukan antara lain karena kenyataan telah sering membuktikan kebenaran dawuh: “Maatal mar-u ‘alaa maa ‘aasya”, Orang mati sesuai hidupnya. Ada kiai di Jawa Tengah yang meninggal saat sujud; ada guru yang meninggal saat mengajar; ada intelektual yang meninggal saat ceramah; dst. Tapi kita juga membaca berita ada tokoh masyarakat yang mati di hotel dalam pelukan pelacur; ada yang mati mendadak ketika sedang menghitung uang suap; dan masih banyak lagi yang tidak diberitakan.



Yang membuat banyak orang khawatir, ternyata dalam kehidupan ramai berbangsa dan bernegara pun tampaknya menjalani kehidupan yang itu- itu saja juga terus berlangsung. KKN terus merajalela. Sogok-menyogok terus marak. Rekayasa busuk terus berlangsung. Keserakahan terus tak terkendali. Dunia keagamaan masih terus diramaikan dengan saling memutlakkan pemahaman dan pendapat sendiri, seolah-olah masing-masing wakil resmi Tuhan. Dunia politik masih terus didominasi mereka yang berebut kekuasaan dan fanatisme kelompok. Para pejabat dan wakil rakyat masih terus pamer kegagahan dan kelihaian menjauhi rakyat. Dunia usaha masih terus dipenuhi dengan tindakan spekulasi dan keserakahan model mafia. Dunia hukum masih terus dipusingkan oleh hakim-hakim dan para penegak hukum yang taktahu menghargai hukum. Dan sebagainya dan seterusnya.



Apakah tahun baru ini pun tak menjanjikan perubahan?



Catatan: Seperti terbaca dalan tulisan di atas, ini saya tulis 5 tahun yang lalu. Adalah sungguh menyedihkan bila tulisan ini ternyata seperti baru saja saya tulis. Berarti kondisi kita seperti ‘berjalan di tempat’.

[Read More...]


Menyaksikan Tuhan Dari Kaum Wanita dalam ‘kemasan’ Sachiko Murata. (Bag. 2)



Jandī menjelaskan mengapa wanita merupakan lokus penyaksian yang paling lengkap sebagai berikut:

Pria menyaksikan yang Nyata di dalam suatu lokus penerima aktivitas dalam keadaan di mana lokus itu sekaligus menerima dan bertindak. Dia menyaksikan Tuhan dalam suatu lokus yang menyatukan 

[1]. menerima aktivitas sementara ia aktif dan sekaligus reseptif,
[2]. bertindak sementara ia menerima aktivitas, dan 
[3]. menerima aktivitas sementara ia aktif. Namun di sini ada misteri-misteri tersembunyi, yang terlarang bagi mereka yang tidak pantas.



                Misteri dari penjelasan Jandī sendiri barangkali dapat dijelaskan dengan melihat ulasan-ulasan lain mengenai bagian tulisan yang menetukan ini.

                Menurut Kāshānī, penyaksian yang Nyata dalam hubungan seksual adalah yang paling sempurna, sebab penyaksian itu berlangsung dalam suatu lokus yang menerima aktivitas, sementara lokus itu menerima aktivitas dari yang aktif. Pada saat yang sama, keduanya menjadi satu dalam realitas tunggal, sebab perkawinan dari makrifat yang menyaksikan itu menyatukan penyaksian atas yang Nyata ketika menerima aktivitas sementara Dia melakukan suatu tindakan. Maka Dia aktif ketika tengah menerima aktivitas, dan menerima aktivitas ketika dia tengah aktif.

                Qaysarī jelas tidak puas dengan penjelasan dari gurunya atau guru dari gurunya, sebab penjelasannya hanya sedikit yang menyerupai penjelasan mereka:

Penyaksian aktivitas Tuhan berarti bahwa yang Nyata, yang terwujud dalam bentuk wanita, memegang kontrol dan bertindak atas jiwa pria melalui pengontrolan universal. Dia membuat pria patuh dan mencintai jiwanya sendiri.

Menyaksikan Dia menerima pengaruh berarti bahwa bentuk ini adalah tempat yang dikontrol pria. Ia berada di bawah tangannya dan perintahnya serta larangannya.

Ada kemungkinan juga bahwa cara Dia menjadi aktif melalui wanita adalah karena realitas wanita itu identik dengan realitas pria, karena sifat maskulin dan sifat feminin merupakan kejadian-kejadian realitas. Maka realitas manusia itu bertindak di dalam dirinya, dan ia sendiri menerima tindakannya. Aktivitasnya dan penerimaannya akan aktivitas adalah sama.

                ‘Abd al Raḥmān Jamī memberikan penjelasan yang lebih langsung:

Pria menyaksikan yang Nyata dalam kaitan dengan kenyataan bahwa Dia sekaligus yang aktif dan lokus untuk menerima aktivitas, tanpa ada pemisahan di antara keduanya. Dia menyaksikan yang Nyata di dalam diri wanita dalam kaitan dengan diri-Nya sebagai yang aktif, sebab wanita mempunyai pengaruh di dalam jiwa pria dengan jalan menggairahkannya. Pria menyaksikan-Nya dalam kaitan dengan penerimaan aktivitas-Nya, sebab wanita menjadi terpengaruh olehnya pada waktu mengadakan hubungan dengannya.

Namun, [dia menyaksikan-Nya] dalam dirinya sendiri hanya dalam kaitan dengan kenyataan bahwa dia merupakan lokus yang menerima aktivitas.

                Qaysarī menjelaskan:

Ketika dia menyaksikan-Nya dalam jiwanya sendiri tanpa mengingat bentuk wanita itu, dia menyaksikan-Nya sebagai suatu lokus yang menerima aktivitas, sebab dia adalah salah satu benda yang merupakan objek aktivitas Tuhan dan ciptaan-Nya.

Inilah sebabnya mengapa Nabi mencintai kaum wanita— dikarenakan kesempurnaan penyaksian yang Nyata di dalam diri mereka. Sebab yang Nyata tidak pernah dapat disaksikan terlepas dari materi, sebab Tuhan dalam esensi-Nya tidak tergantung pada semua dunia. Karena situasinya mustahil dalam kaitan ini, dan penyaksian berlangsung hanya dalam beberapa materi, maka penyaksian atas yang Nyata dalam diri kaum wanita merupakan penyaksian yang terbesar dan yang paling sempurna.

by: Surya Qalandar

*****
[Read More...]


Menyaksikan Tuhan dalam Diri Kaum Wanita dalam ‘kemasan’ Sachiko Murata. (Bag. 1)



Tibalah pada sebuah pembahasan, yaitu bahwa menyaksikan atau merenungkan Tuhan dalam diri wanita merupakan jenis kesaksian yang paling sempurna yang diberikan kepada manusia. Ada gunanya kita ingat disini bahwa wakil-wakil dari tradisi kearifan Muslim tidak menyetujui bahwa Tuhan dapat dilihat dalam diri-Nya sendiri, yaitu, dalam esensi-Nya sendiri. Esensi Tuhan berada di luar setiap pembatasan, entifikasi, dan hubungan. Tidak ada “ketiadaan” yang dapat disaksikan oleh sesuatu. Namun, Tuhan dapat disaksikan pada saat Dia mengungkapkan diri-Nya sendiri (tajallī). Dan Dia mengungkapkan diri-Nya sendiri dalam segala sesuatu yang diciptakan.

Pemikiran pokok Ibn al ‘Arabī—yang kaitannya dengan pembahasan ini—adalah mengemukakan hakikat dari kesaksian sempurna akan Tuhan yang diberikan kepada manusia yang paling sempurna dan mereka yang mengikuti langkah-langkahnya. Tradisi menyatakan bahwa Tuhan mengungkapkan diri-Nya sendiri dengan cara paling lengkap dan paling sempurna dalam diri manusia, yang diciptakan dalam citra nama Allāh, nama yang mencakup semua nama, setiap realitas, dan setiap kemungkinan ontologis. Maka menyaksikan Tuhan dalam diri manusia pasti merupakan bentuk penyaksian yang paling sempurna. Namun, selanjutnya kita dapat menanyakan apakah penyaksian Tuhan itu lebih sempurna dalam bentuk kaum pria atau dalam bentuk kaum wanita. Jawaban Ibn al ‘Arabī adalah kaum wanita, terutama karena kaum wanita “dibuat memikat” hati Nabi. Nabi tidak mungkin dibuat mencintai sesuatu selain Tuhan, sebab tidak ada yang lain selain yang Nyata itu yang pantas dicintai. “Tidak ada yang dicintai kecuali Tuhan” adalah suatu tema yang terdapat diseluruh literatur Sufi, meskipun jarang diungkapkan dalam kata-kata tersebut. Rumi memberikan penjelasan yang paling rinci dan mudah ditangkap atas fakta bahwa semua cinta itu dalam kenyataannya ditujukan hanya kepada Tuhan. Tetapi dibutuhkan seorang nabi atau seorang makrifat untuk mengalami ini.


            

                                                 beberapa versi dari salah satu karya Sachiko Murata

Pendeknya, Ibn al ‘Arabī berkeyakinan bahwa menyaksikan Tuhan dalam bentuk manusia wanita merupakan cara penyaksian paling sempurna. Dia juga memberikan penjelasan rasional bagi keyakinan ini. Tetapi harus diingat bahwa Ibn al ‘Arabī tengah berbicara terutama bukan sebagai seorang ahli pikir rasional, melainkan sebagai seorang makrifat yang sendirinya telah mencicipi realitas-realitas. Dia sendiri mengetahui melalui pengalamannya sendiri bahwa inilah bentuk penyaksian yang paling sempurna.

Intisari dari penjelasannya adalah bahwa dengan menyaksikan Tuhan dalam diri wanita, seorang pria melihat-Nya sebagai yin dan yang sekaligus, sebagai yang mencakup keagungan dan keindahan, yang jauh dan yang dekat, aktivitas dan penerimaan, tangan kiri dan tangan kanan.


                       karya Sachiko Murata yang lain 


Ketika pria menyaksikan yang Nyata dalam diri wanita, inilah penyaksian di dalam suatu lokus yang menerima aktivitas. Ketika pria menyaksikan Dia dalam dirinya sendiri dalam kaitannya dengan kenyataan bahwa wanita menjadi terwujud dari dirinya, maka dia telah menyaksikan Tuhan dalam diri seorang wakil. Ketika pria menyaksikan-Nya dalam dirinya sendiri tanpa mengingat bentuk dari sesuatu yang dimunculkan dari dirinya, maka penyaksiannya berlangsung di dalam suatu lokus yang menerima aktivitas yang Nyata tanpa perantara.

Maka penyaksiannya atas yang Nyata dalam diri wanita adalah yang paling lengkap dan paling sempurna, sebab dia menyaksikan yang Nyata dalam kaitannya dengan kenyataan bahwa Dia sekaligus seorang wakil dan lokus penerima aktivitas.

By: Surya Qalandar


NB: Jangan lupa sedia kopi, Bro (bagi para penikmatnya), biar enggak tegang. :)

[Read More...]


Kuda- Kuda Batin Ĥusn al Žann



Selepas shubuh, seperti biasa, wiridan sebentar lantas ada sedikit ceramah dari imam surau. Jika dulu diisi oleh pak kiai, tapi akhir-akhir ini kerap digantikan oleh menantunya, anak baru dikampung kami. Dia tamatan universitas ternama di negeri ini.

“Bapak-ibu sekalian, sepekan yang lalu ada orang yang sengaja menjatuhkan dirinya dari atas gedung. Bunuh diri. Itu sangat dilarang oleh agama, dan ganjarannya adalah neraka. Padahal dia muslim, tentunya dia mengerti larangan ini.”

“Maka dari itu, bapak-ibu sekalian, walaupun penderitaan datang bertubi-tubi, jangan sampai kita nekat bunuh diri seperti orang itu, neraka, bapak-ibu sekalian, sungguh nerakalah yang bakal ia huni! Dia ahl al nâr! na’ŭdhu billâh.” Tutur menantu pak kiai sambil ngelus-ngelus dada.

Jama’ah tampak kagum dan antusias terhadap anak muda ini. Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi kawan saya. “Kampret, ni, bocah!” Celetuk kawanku. “Ada apa, Bro?” tanyaku, “Kok berani-beraninya dia memvonis orang itu pasti masuk neraka, ahl al nâr, emang dia “panitia”-nya, apa? Huh!”

“Maksudmu gimana?”, “Maksud saya ya mbok ndak usah cepat-cepat menuduh seperti itu lah... Memang benar jika bunuh diri itu dilarang agama, tapi kalau mendadak memvonis seenak perut seperti itu ‘kan terlalu terburu-buru.”, “Oke, Bro, oke. Sekarang solusimu apa terkait kejadian tersebut?”



“Buat saya pribadi, alangkah baiknya jika kita ĥusn al žann aja, siapa tahu kalau orang itu pada awalnya memang niat bunuh diri, tak hiraukan larangan agama, tapi kita ‘kan tak tahu kalau ternyata dia sadar ketika berada ditengah-tengah, lantas dia bertobat, namun tetap saja, dia akan ‘mencium’ bebatuan tanah yang tak bisa dia hindari, jika begitu ‘kan lain ceritanya dan wallâhu a’lam. Setidaknya kita sudah punya kuda-kuda batin yang namanya ĥusn al žann itu.”

Aku masih mencoba meraba kata-katanya, eh, tak tahunya dia sudah nyelonong pergi.

*) Salam
[Read More...]


Di Bawah Lentera Merah Soe Hok Gie "Review dan Harga Terbaik"



siap beredar

Paperback, 110 pages
Published June 2005 by Bentang (first published May 20th 1990)

Title  : Di Bawah Lentera                        Merah
ISBN  : 9793062614

Harga : Cek disini atau 
                Inbox via                                      085643413091  

 (gak lebih dari Rp 30.000 ko ^_^)

Di Balik Lentera Merah, yap buku ini merupakan karya skripsi dari Soe panggilan akrab Soe Hok Gie. Buku ini mengulas tentang tonggak awal bergeraknya faham Marxisme di Indonesia melalui Sarekat Islam dibawah pimpinan Semaoen yang beranggotakan kaum buruh dan rakyat kecil. Dimulai dari pergantian pengurus awal mula perubahan gerakan Sarekat Islam Semarang dari gerakan kaum menengah menjadi gerakan kaum buruh dan tani.

edisi doloe
dan doloe lagi
Yang pertama bikin saya berkesan adalah banyaknya catatan- catatan kaki yang tentu didapatkan dari berbagai sumber bahkan memerlukan ketelitian lebih, mulai dari kliping- kliping koran dari tahun 1917- 1920an serta wawancara autentik dari tokoh- tokoh sejarah yang tersisa pada masa itu.

Benih- benih kebangsaan mulai muncul pada tahun- tahun ini, bangsa kita belajar berorganisasi. Dan merupakan masa- masa krusial dimana rakyat diajak untuk merubah pola pikir yang menekankan individualisme tak akan membawa bangsa ini menuju ke kemerdekaan seperti yang kita rasakan saat ini.

Penulis mengajak kita mencermati bagaimana para tokoh tradisional lokal tahun 1917an mencoba menyikapi perubahan pada abad ke-20 yang dalam satu dan lain hal, yang terwujud melalui gagasan dan ide sehingga muncul potret bangsa yang kita rasakan saat ini.

Buku ini sudah mulai sulit ditemukan dipasaran atau kota- kota tertentu, maka dapatkan bukunya segera sebelum kehabisan disini dengan harga bersahabat atau bisa langsung kontak admin via 085643413091.

Sangat disarankan komentar dari para pembaca blog biasa ini untuk memperkaya wawasan kita mulai dari kebangsaan, perkembangan organisasi itu sendiri dikolom komentar.

Terima kasih dan Salam.

Referensi: https://www.goodreads.com/book/show/3154097-di-bawah-lentera-merah 


*bagi yang suka nyari pdfnya mungkin admin bisa bantu melalui link Download ini.
[Read More...]


 
Return to top of page Copyright © 2013- 2015 | Platinum Theme modification by Alfian Haris