Serambi Seribu Serbi

space disewakan

Definisi Perpustakaan Digital (Digital Library)




Definisi Perpustakaan Digital (Digital Library)

 
Perpustakaan Digital.jpg


1.     Borgman (2003) dalam Suwarno (2010:27) mengatakan bahwa :

A digital library is a system that provides a community of user with coherent access to a large, organized repository of information and knowledge.”

Sebuah perpustakaan digital adalah suatu sistem yang menyediakan suatu komunitas pengguna dengan akses terpadu yang menjangkau keluasan informasi dan ilmu pengetahuan yang telah tersimpan dan terorganisasi dengan baik .

(Suwarno, Wiji. 2010. Ilmu Perpustakaan & Kode Etik Pustakawan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. )

2.     Pengertian lain dari praktisi perpustakaan Digital Library Federation (DLF), Deegan  dalam Suwarno (2010:27) mengatakan bahwa :

Digital libraries are organizations that provide the resources, including the specialized staff, to select , structure, offer intellectual access to, interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence over time of collections of digital works so that they are readily and economically available  for use by defined community or set of communities”

Perpustakaan digital adalah organisasi yang menyediakan sumber daya mencakup staf ahli untuk memilih; struktur; penawaran akses intelektual untuk menginterpretasikan, mendistribusikan, dan memelihara integritas serta koleksi dari waktu ke waktu sedemikian rupa sehingga tersedia dan siap untuk digunakan oleh masyarakat.

(Suwarno, Wiji. 2010. Ilmu Perpustakaan & Kode Etik Pustakawan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. )

3.     T.B. Rajashekar dalam Wahono (2006) mendefinisikan sebagai berikut:
“ a managed collection of information, with associated services, where the information is stored in digital formats and accessible over a network”.

Koleksi dari beberapa informasi yang dikelola dan dapat dilayankan, dimana informasi tersebut disimpan dalam format digital dan dapat diakses melalui sebuah jaringan.

4.     John Millard dalam Wahono (2006)  mendefinisikan sebagai berikut :
 libraries that are distinguished from information retrieval systems because they include more type of media, provide additional functionally and services, and include other stages of the information life cycle, from creation through use. Digital libraries can be viewed as a new form of information institution or as an extension of services libraries currently provide”.

Jadi sebuah perpustakaan  yang dibedakan berdasarkan sistem temu kembali informasinya, sebab perpustakaan ini mempunyai banyak model media yang dimasukkan kedalamnya. Yaitu menyediakan layanan dan fungsi tambahan dan juga termasuk peningkatan masa hidup sebuah informasi, sejak informasi itu diciptakan dan kemudian digunakan. Perpustakaan digital dapat dilihat sebagai sebuah bentuk baru dari institusi informasi atau sebuah perluasan dari pelayanan perpustakaan yang diberikan pada masa sekarang.



5.     Perpustakaan digital adalah suatu perpustakaan yang menyimpan data baik itu buku (tulisan), gambar, suara dalam bentuk file elektronik dan mendistribusikannya dengan menggunakan protokol elektronik melalui jaringan komputer. Istillah perpustakaan digital atau digital library sendiri mengandung pengertian sama dengan electronic library dan virtual library. Sedangkan istilah yang sering digunakan dewasa ini adalah digital library, hal ini bisa kita lihat dengan adanya workshop, simposium, atau konferensi dengan memakai nama digital library .



6.     Digital Library (DL) atau perpustakaan digital adalah suatu perpustakaan yang menyimpan data baik itu buku (tulisan), gambar, suara dalam bentuk file elektronik dan mendistribusikannya dengan menggunakan protokol elektronik melalui jaringan komputer. Istilah digital library sendiri mengandung pengertian sama dengan electronic library dan virtual library. Sedangkan istilah yang sering digunakan dewasa ini adalah digital library, hal ini bisa kita lihat dengan sering munculnya istilah tersebut dalam workshop, simposium, atau konferensi dengan memakai nama digital library .

(Tabata Kouichi, “What is Digital Library”, IPSJ Journal Vol.37 No.9, Japan, 1996. (Japanese) )


Analisis
Perbedaan :
         Untuk pengertian yang pertama : Borgman  lebih menekankan pada akses keluasan informasi, dimana informasi tadi sudah disimpan dan  dikelola dengan baik., sementara Digital Library Federation lebih menekankan pada sebuah penyediaan sumber daya, yang meliputi staf ahli perpustakaan itu sendiri. Pengertian lain menurut T.B. Rajashekar, perpustakaan yang menyimpan informasi dalam format digital yang bisa diakses melaui jaringan internet, sementara John Millard mengemukakan bahwa yang membuat perpustakaan digital ini berbeda dengan jenis  perpustakaan yang lain adalah  sistem temu kembali informasinya. Pengertian yang kelima menjelaskan bahwa perpustakaan digital itu koleksinya berupa file elektronik.
Persamaan : Dari definisi diatas tadi dapat disimpulkan bahwa perpustakaan digital itu menawarkan kemudahan akses informasi.
Simpulan : Dari beberapa kesimpulan diatas dapat ditarik garis tengah, bahwa perpustakaan digital itu adalah sebuah perpustakaan yang menyediakan kemudahan akses bagi penggunanya yang didalamnya memiliki sumberdaya staf ahli, yang mempunya berbagai macam model koleksi informasi, diantaranya dalam format file digital, yang dapat diakses dari jarak jauh dengan menggunakan jaringan internet.
[Read More...]


PENGERTIAN AMSAL DALAM AL- QUR'AN



PENGERTIAN AMSAL DALAM AL- QUR'AN 

   
BAB 1

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
     salah satu aspek keindahan retorika Al-Qur’an adalah amtsal (perumpamaan-perumpamaan)-nya. Al-Qur’an tidak hanya memuat masalah kehidupan dunia yang diindera, tetapi juga memuat masalah kehidupan akhirat dan hakikat lainnya yang memiliki makna dan tujuan ideal yang tidak dapat diindera dan berada di luar pemikiran akal manusia. Pembicaraan  yang terakhir ini dituangkan dalam bentuk kata yang indah, mempesona, dan mudah dipahami, yang dirangkai dalam untaian perumpamaan dengan sesuatu yang telah diketahui secara yakin, yang dinamai tamtsil (perumpamaan) itu
      tamtsil (membuat perumpamaan) merupakan gaya bahasa yang dapat menampilkan pesan yang berbekas pada hati sanubari. Oleh karena itu, Allah membuat perumpamaan bagi manusia bukan binatang atau mahluk lainnya-agar manusia dapat memikirkan dan memahami rahasia serta isyarat yang terkandung didalamnya.

 Rumusan Masalah
  1. Apa itu pengertian amtsal Al-Qur’an?
  2. Rukun amtsal Al-Qur’an?
  3. Macam-macam amtsal Al-Qur’an?
  4. Apa manfaat Amtsal Al-Qur’an?
  5. Penggunaan Amstal Sebagai Media Dakwah


BAB II
PEMBAHASAN

PENGERTIAN AMTSAL AL QUR’AN

         Kata amtsal merupakan bentuk jamak dari kata matsal (perumpamaan) atau mitsil (serupa) atau matsil, sama halnya dengan kata syabah atau syabih.karena itu dalam ilmu balaghah, pembahasan yang sama ini lebih dikenal dengan istilah tasbyih, bukan amtsal. Sedangkan pengertian amtsal secara terminologi dirumuskan oleh para ulama’ dengan redaksi yang berbeda-beda,

1.     Menurut Rasyid Ridha, amtsal adalah kalimat yang digunakan untuk memberi kesan dan menggerakan hati nurani, Bila didengar terus, pengaruhnya akan menyentuh lubuk hati yang paling dalam
2.     Menurut Asy-Syafi’i, Mengharuskan mujtahid untuk mengetahui ilmu-ilmu AL-Qur’an termasuk didalamnya, mengetahui objek yang di jadikan perumpamaan yang menunjukan ketaatannya kepada Allah dan meninggalkan maksiat kepada-Nya.
3.     Menurut Muhammad Bakar Isma’il adalah pengumpamaan sesutu dengan sesuatu yang lain, baik dengan jalan isti’arah, kinayah,atau tasybih. Dilihat dari segi istilah, amtsal dikenal sebagai salah satu aspek ilmu sastra Arab. Pengertian amtsal dalam Al-Qur’an lebih tepat digunakan untuk mengacu pada kesan dan sentuhan perasaan terhadap apa yang dikandungnya, tanpa mempersoalkan ada atau tidak adanya kisah yang berhubungan dengan dengan amtsal itu. Kendatipun demikian, amtsal yang berangkat dari kisah nyata, banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, dan ini lebih tepat dimanakan tamtsil karena disusun menurut bentuk tamtsil, bukan dalam bentuk berita.
   
  1. Rukun amtsal

    Rukun amtsal terbagi atas empat macam:
1.     Wajah syabbah: yaitu pengertian bersama-sama yang ada musyabbah dan musyabbah bih.
2.     Alat tasybih: yaitu kaf, mitsil, kaana, dan semua lafaz yang menunjukan makna perserupaan.
3.     Musyabbah: yaitu sesuatu yang di serapkan (menyerupai) musyabbah bih.
4.     Musyabbah bih: yaitu sesuatu yang diserupai oleh musyabbah.

 B. Macam-macam Amtsal AL-Qur’an

Menurut Al Qathan. amsal Al-qur’an dapat dibagi menjadi tiga bagian. Yaitu berikut ini:

1.     Amtsal Musharrahah: yang di maksud dengan amtsal musharrahah adalah amtsal yang jelas. Yakni yang jelas menggunakan kata-kata perumpamaan atau kata yang menunjukan penyerupa (tasybih).  Contohnya  QS Al-Baqarah [2] : 17-20        artinya  perumpamaan meraka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka, tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (kejalan yang benar), atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang hampir kafir.Hampir-hampir kilat menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan dibawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.”

2.     Amtsal kaminah: yang dimaksud dengan amtsal kaminah adalah amtsal yang tidak menyebutkan dengan jelas kata-kata yang menunjukan kata-kata perumpaman tetapi kalimat itu mengandung pengertian yang mepesona. Sebagai mana terkandung dalam ungkapan-ungkapan singkat (ijaz).


3.     Amtsal mursalah: yang dimaksud dengan amtsal mursalah adalah kalimat-kalimat Al-qur’an yang disebut secara lepas tanpa ditegaskan redaksi penyerupa. Tetapi dapat digunakan untuk menyerupa. Tetapi khusus amtsal mursalah, para ulama’ berbeda pendapat dalam menanggapinya.

a.     Sebagian ulama menganggap amtsal mursalah telah keluar dari etika Al-Qur’an. Ar-Razi berkomentar bahwa ada sebagian orang-orang menjadikan ayat lakum dinukum wa liyaddin sebagai perumpamaan ketika mereka lalai dan tak mau menaati perintah Allah. Ar-Razi lebih jauh mengatakan bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan sebab Allah tidak menurunkan ayat ini untuk dijadikan perumpamaan, tetapi untuk diteliti, direnungkan, dan kemudian diamankan.

b.     Sebagaian ulama lain beranggapan bahwa mempergunakan amtsal mursalah itu boleh saja karena amtsal, termasuk amtsal mursalah lebih berkesan dan dapat mempengaruhi jiwa manusia. Sebagaimana yang digunakan oleh orang-orang yang menyesal karena tertimpa kesusahan.ia lalu menggunakan QS. An-Najm (53) ayat 58.    


C. Manfaat Amtsal Al-Qur’an

     Manna Al-Qathan menjelaskan bahwa diantara manfaat amtsal Al-Qur’an adalah berikut ini.

  1. Menampilkan sesuatu yang abstrak (yang hanya ada dalam pikiran) ke dalam sesuatu yang konkret-material yang dapat diindra manusia. Dengan cara ini, akal dapat menerima pesan yang disampaikan oleh perumpamaan itu. Maka yang abstrak masih membuat hati ragu, kecuali bila telah ditransfer terlebih dahulu kedalam makna yang konkret.

  1. Menyingkap makna yang sebenarnya dan memperlihatkan hal yang gaib melalui paparan yang nyata, seperti disebutkan dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat (275) yang artinya:  orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.
  2. Menghimpun arti yang indah dalam ungkapan yang singkat sebagai mana terlihat dalam amtsal kaminah dan amtsal mursalah.
  3. Membuat si pelaku amtsal menjadi senang dan bersemangat, seperti yang disebutkan dalam firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat (261) yang artinya: “perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan bulir pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya lagi maha mengetahui.”
  4. Menjauhkan seseorang dari sesuatu yang tidak disenangi.
  5. Memberikan pujian kepada pelaku.
  6. Memperlihatkan bahwa yang dijadikan perumpamaan memiliki sifat yang tidak disenangi manusia.
  7. pesan yang disampaikan melalui amtsal lebih mengena dihati mantap dalam menyampaikan nasehat dan lebih kuat pengaruhnya.
  8. Menghindari dari perbuatan tercela. Allah banyak menyebut amtsal dalam Al-Qur’an untuk pengajaran dan peringatan.
QS. Az-zumar [39] ayat 27  artinya “Sesungguh telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al-Qur’an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.”  Dan QS. Al- Ankabut: 43 artinya: “Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang memahami kecuali orang-orang yang berilmu

D. Penggunaan Amstal Sebagai Media Dakwah

      Sebagaimana telah diutarakan bahwa pesan yang disampaikan melalui amtsal lebih mengena dihati; lebih mantap dalam menyampaikan nasihat ; lebih kuat pengaruhnya. Itu sebabnya, Nabi SAW. Banyak menggunakan amtsal ketika menyampaikan dakwahnya dan banyak pula juru dakwah dan pendidik yang menyampaikan pesan-pesannya melalui media amtsal.
     Berkaitan  dengan strategi dakwah, Mushtafa Mansyur menyatakan bahwa setiap pendakwah harus dibekali dirinya dengan pengetahuan-pengetahuan yang dapat mengetuk dan membuka hati pendengarnya sehingga ia dapat menyampaikan pesan-pesannya, salah satu strategi ini yang dapat digunakan adalah media amtsal.
      Di sisi lain, banyak aspek ajaran islam yang bersifat abstrak yang sulit diterima oleh akal pikiran manusia, diantaranya adalah gambaran tentang hilangnya pahala sedekah seseorang yang disertai sifat riya’. Gambaran ini bersifat abstrak sehingga sulit dipahami. Akaan tetapi setelah gambaran ini diformalisasikan dalam bentuk perumpamaan, yakni sirnanya tahah diatas batu akibat hujan yang menimpanya. Maka gambaran ina menjadi lebih mudah dipahami. Dengan, agar strategi dakwah dalam bentuk menyampaikan pesan dapat diterima dengan mudah oleh pendengar, dan dapat disalurkan melalui amtsal.  
  
  
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.     Amtsal adalah suatu perumpamaan yang hanya ada dalam pikiran (abstrak) dengan diskripsi sesuatu yang  dapat diindra (konkret), melalui pengungkapan yang indah dan mempesona, baik dengan jalan tasybih, isti’anah, rinayah dan mursal.
2.     Amtsal dalam Al-Qur’an dibagi menjadi: Amtsal musharrah, Amtsal kaminah, Amtsal mursalah.
3.     Manfaat-manfaat Amtsal (lihat diatas)
4.     Pengguna Amtsal dalam media dakwah lebih mudah diterima.
     

[Read More...]


Filsafat Etika dan Ilmu Pengetahuan



ETIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
Makalah
Diajukan untuk memenuhi tugas
mata kuliah Filsafat Ilmu
Dosen :
Dra. Hj. Ermi Suhasti S., MSI.
Oleh :
ALFIAN KHARIS
NIM : 09350077/ AS-B
AL- AHWAL ASY-SYAKHSIYAH 
 FAKULTAS SYARI’AH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
2011
PENDAHULUAN
Seringkali keilmuan dan etika dikonfrontasikan dalam konsepsi kontemporer. Karena berkembang pendapat dimasyarakat bahwa keilmuan saat ini maju sedemikian pesatnya sehingga meninggalkan nilai-nilai etika apalagi agama. Sikap konfrontatif dan kecurigaan itu hanya bisa terjadi bila kurang pengetahuan dan kompetensi masing-masing mengenai yang terjadi dalam bidang riset ilmiah dan apa yang khas bagi etika serta monotheisme otentik dalam artian agama. [1]
 
PEMBAHASAN
Situasi problematis yang dihadapi oleh etika, ilmu dan agama kini tidak lagi bisa dilihat sekedar sebagai problem kasuistik, melainkan menggugat jauh ke pondasi-pondasi terdasar etika, ilmu dan agama sehingga pembahasannya bersifat pragmatis.[2]
Memang, jika kita melihat perkembangan keilmuan yang sangat spektakuler saat ini telah banyak memberikan kontribusi yang sangat besar pada umat manusia misalnya mempermudah manusia dalam melakukan mobilitas baik itu dengan menggunakan sarana transportasi dan komunikasi, ilmu kedokteran yang sangat pesat, atau dengan penemuannya, seperti metode penanaman micro cips yang berisi data-data komputer ketangan manusia sehingga jika ia bermaksud menghidupkan komputer mereka cukup hanya dengan melambaikan tangan di depan CPU, selain itu ia juga dapat memidahkan data dalam micro cips tersebut ke komputer lain dengan sangat mudah.
Disisi lain  sering timbul kekhawatiran dikalangan umat manusia karena banyak ilmuwan yang tidak bertanggungjawab dan mengesampingkan moral sehingga banyak kerusakan yang diakibatkan oleh tangan-tangan mereka,[3] mulai dari krisis lingkungan yang mengakibatkan terganggunya ekosistem, pemanasan global seperti efek rumah kaca dan sebagainya. Belum lagi  dengan perkembangan nuklir yang memiliki kekuatan ribuan kali lipat yang baru-baru ini terjadi kebocoran sehingga menggangu umat manusia, khususnya di Jepang.
Jika kekhawatiran akan jatuh pada kesalahan membuat orang curiga terhadap ilmu dan dalam waktu yang bersamaan ia juga menggunakan cara kerja ilmu pengetahuan dengan tanpa keraguan, maka jangan mengabaikan kemungkinan untuk membalik prosedur ini dengan menempatkan kecurigaan ini dan kemudian memikirkan pertanyaan lain.  Karena bukankah ketakutan akan berbuat salah merupakan kesalahan itu sendiri?[4]
Namun pada tataran praktis ternyata proyek besar ini malah menghasilkan banyak gejala yang justru bertentangan dengan nilai-nilai yang diharapkan. Misalnya mulai runtuhnya nilai-nilia kemanusiaan, moral, dan lain sebagainya. Barangkali salah satu akarnya adalah karena modernisme dalam menjalankan proyek “kontrol-total”-nya hanya sekedar retorika belaka.
Dalam bidang moral persoalannya hampir sama, seolah-olah konsep tentang apa yang sesungguhnya “baik”, “adil”, dan “wajib” haruslah didektekan oleh mereka yang memiliki otoritas dan ahli, dalam hal ini para filosof.
Pada dasarnya perbedaan utama antara manusia dan binatang terletak pada kemampuan manusia untuk berpikir tentang bagaimana cara mereka mencapai tujuan. Manusia seringkali disebut sebagai homo faber[5], yakni makhluk pembuat alat, dan kemampuan membuat alat itu dimungkinkan karena manusia memiliki akal yang dapat menghasilkan pengetahuan. Perkembangan pengetahuan sendiri memerlukan alat atau sarana.
Begitu juga dalam melakukan kegiatan ilmiah secara baik, maka diperlukan sarana berpikir sehingga memungkinkan bagi seorang ilmuwan untuk melakukan penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan hal yang sangat penting bagi seorang ilmuwan.
Pada dasarnya alat ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Dalam hal ini pengetian bahwa secara ilmiah merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah misalnya pengguna cara berpikir induktif dan deduktif.
Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah agar memungkinkan manusia melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan untuk memecahkan persoalan mereka sehari-hari. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir yang baik pula. Dari proses berpikir yang baik, logis dan ilmiah maka akan dihasilkan ilmu yang ilmiah pula.
Dalam melakukan kegiatan ilmiah maka seorang ilmuwan selain harus menguasai sarana atau alat berpikir ilmiah maka ia juga harus mempertimbangkan etika keilmuan serta memperhatikan tanggungjawab sosial mereka terhadap produk keilmuan dan masyarakat.
Meskipun perlu disadari bahwa manusia memiliki sisi baik dan juga sisi buruk akan tetapi sebagai seorang ilmuwan yang memiliki pola penalaran rasional yang lebuh tinggi daripada masyarakat awam maka hendaknya ia dapat mereduksi sisi buruk dirinya terutama dalam hal etika atau moral. Pengetahuan bahwa ada baik dan buruk itu disebut kesadaran etis atau kesadaramn moral.[6]
Sesungguhnya etika lebih banyak bersangkutan dengan prinsip-prinsip dasar pembenaran dalam hubungannya dengan tingkah laku manusia.
 
KESIMPULAN
Setelah terjadinya fenomena-fenomena diranah keilmuan, maka etika sangat berperan penting, khususnya dalam perkembangannya agar tidak terjerumus kehal-hal yang buruk. Para ilmuan tak hanya dilandasi pada kejujuran dan patuh pada norma-norma keilmuan, tapi juga harus dilapisi moral dan akhlak.   
Daftar Pustaka
1.     Poedjawiyatna. 1990. Etika Filsafat Tingkah Laku. Jakarta; Rineka Cipta.
2.      Jujun S. Suriasumantri. 2000. Filsafat ilmu sebuah pengantar populer,  Jakarta; Sinar Harapan.
3.     Bambang Sugiharto & Agus Rachmat W. 2004. Wajah Baru Etika & Agama. Yogyakarta; Kanisius.
4.     Greg Soetomo. 1995. Sains & Problem Ketuhanan. Yogyakarta; Kanisius.
5.     Tim dosen filsafat ilmu. UGM. Filsafat Ilmu.1996. Yogyakarta. Liberty


[1] Greg Soetomo. 1995. Sains & Problem Ketuhanan. Yogyakarta; Kanisius. Cet. 1.. hlm. 1
[2] I. Bambang Sugiharto & Agus Rachmat W. 2004. Wajah Baru Etika & Agama. Yogyakarta; Kanisius. Cet. 5. hlm. 5
[3] QS. Ar Rum; 41
[4] Martin Heidegger. 1989.  Dialektika Kesadaran, Perspektif Hegel. (terj). Saut Pasaribu. 2002.Yogyakarta; Ikon Teralitera. hlm. 33
[5] , Jujun S. Suriasumantri. 2000. Filsafat ilmu sebuah pengantar populer,  Jakarta; Sinar Harapan. Cet. XIII  hlm 165
[6] Poedjawiyatna. 1990. Etika Filsafat Tingkah Laku. Jakarta; Rineka Cipta. Cet. VII. hlm. 26-27
[Read More...]


Makalah Nilai Aksiologis Hukum Islam Dulu




NILAI AKSIOLOGIS HUKUM ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menggunakan istilah nilai dan bahkan dapat merasakan adanya macam nilai. Kita merasakan nilai sebagai sesuatu yang mempesona, memikat serta memberi daya tarik pada manusia. Nilai kita rasakan sebagai motor penggerak dan sekaligus memberi arah dalam kehidupan ini. Sebagai yang mempunyai tanggung jawab atas arah dan tujuan hidupnya, tentu saja manusia tidak dapat menggabaikan adanya nilai-nilai tersebut. Namun sayang, nilai yang semestinya dapat mendorong dan mengarahkan manusia menuju ke kesejahteraan dan kebahagiaan hidup, kerap kali justru digunakan manusia sebagai alasan dan senjata untuk saling bermusuhan, saling bertikai satu sama lain, dan orang sering juga sedemikian terpikat serta terobsesi untuk memperjuangkan nilai tertentu, sehingga dirinya seolah-olah terjerat dan terbelenggu oleh nilai tersebut untuk dapat mengembangkan diri lebih utuh dan lebih lanjut.
Agar nilai yang kita rasakan memiliki daya yang sedemikian besar sehingga tidak mengancam dan menghancurkan kehidupan kita, tetapi sebaliknya mendatangkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup, maka perlulah kiranya kita mempelajari dan memahaminya dalam rangka menyelidiki peranannya bagi kehidupan manusia untuk dihadapkan pada berbagai permasalahan berkenaan dengan nilai.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN AKSIOLOGI
Aksiologi berasal dari kata Yunani yaitu: axios berarti sesuai atau wajar, sedangkan logos berarti ilmu, yang berarti studi filosofis yang menyangkut teori umum tentang nilai atau studi tentang hakekat nilai-nilai.
 Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, social dan agama. Sistem mempunyai rancangan bagaimana tatanan, rancangan dan aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap satu institusi agar dapat terwujud.

[Read More...]


 
Return to top of page Copyright © 2013- 2015 | Platinum Theme modification by Alfian Haris