Serambi Seribu Serbi

space disewakan

Jual Novel Cerita dari Digul



Harga: Rp.300.000 
Kondisi: Kinyis berbaju (ada bekas tulisan nama pemilik) 
Cet 2 Januari 2002
Penyunting: PAT
314 Hlm
0,39 KG

Novel Cerita dari Digul merupakan kumpulan dari lima karya tulis dari para Eks-Digulis. Kelima karya tulis tersebut:

1. “ Rustam Digulist “ karya D.E Manu Turoe
2. “ Darah dan Air Mata di Boven Digul “ karya Oen Bo Tik
3. “ Pandu Anak Buangan “ karya Abdoe’l Xarim M.s
4. “ Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul “ karya Wiranta
5. “ Minggat dari Digul ” karya Tanpa Nama

*Bagi pembaca siap- siap dah disuguhin kekayaan gaya bahasa Melayu tempo dulu sesuai karakter penulis, waspadalah smile emotikon

A struggle always come with a sacrifice. A story of exilement which could break down a man or even make them stronger. Ebiet goodreads





[Read More...]


Catatan Pulau Buru PERAWAN REMAJA dalam CENGKERAMAN MILITER



" . . . kalian para perawan remaja , telah aku susun surat ini untuk kalian , bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang bisa menimpa para gadis seumur kalian , juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu . . . surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes , sekali pun kejadiannya telah puluhan tahun lewat . . . "
sekarang sudah tersedia Rp 35.000,00
sementara medsos of ya gan kecuali via fb atau di 085643413091 

[Read More...]


Melankoli Masa Kecil "Calon Arang"



Awalnya saya sedikit meraba-raba. Ada beberapa buku dari Sang Maestro Pramoedya Ananta Toer yang sudah rampung saya baca. Tentu saja tidak semua buku yang sudah dibaca ingat judul, warna sampul hingga penerbitnya dari mana. Buku-buku yang sudah saya baca cukup menjadi bekal diri dalam mengambil setiap keputusan dan melahirkan imaji-imaji terbaik tentang kemanusiaan dan segala kehidupannya. Tiba-tiba bebookone.com adik dari seribuserbi.com mengirim pesan singkat meminta saya untuk sedikit memberi semacam pengalaman baca dari salah satu buku Sang Maestro Sastra Indonesi, yaitu Calon Arang.


Wah, saya cukup minder jika menuliskan hal-hal tentang beliau ini. Saya meraba-raba ingatan sendiri. Apakah sudah pernah baca atau belum? Saya sanggupi saja. Dan ternyata saya sudah membacanya sejak beberapa tahun yang lalu. Mungkin karena lebih bersifat fiksi sehingga tidak begitu saya ingat benar-benar. Namun ketika disodori buku ini lagi, ada pengalaman baru dalam membaca buku ini. Bagaimanapun, ini adalah satu-satunya karya Pramoedya yang bergenre seperti ini. Beliau menyebutnya buku dongeng untuk anak-anak.

Sebagaimana yang dikatakan oleh beliau di pengantar buku ini. Dan saya kira wajib sebelum melahap buku ini, yaitu membaca pengantar penulis. Silahkan dibaca dan diresapi. Apa yang dikatakan sang penulis banyak benarnya terkait tujuan dari penulisan buku ini. Kenapa? Karena semakin lama, dunia anak-anak semakin sempit. Misalnya dalam dunia musik, anak-anak lebih suka musik orang dewasa. Itu karena tidak ada musik yang layak dan disediakan untuk anak-anak. Mungkin itu juga salah satu keresahan sang penulis. Membaca buku ini, ingatan saya membawa kepada semasa kecil dulu. Dimana ketika saya tidur di rumah nenek, dengan teduh kehangatannya, nenek membacakan dongeng tentang kehidupan binatang yang mengajarkan kepada manusia bagaimana caranya menjadi manusia dengan baik. Semoga nenek tenang di alam sana. Begitu juga orang-orang tersayang yang sudah mendahului kita. Amiin.

***

Sebagaimana tujuannya, buku ini diperuntukkan untuk menghidupkan tradisi cerita-cerita khas pengantar tidur, seperti dongeng yang selalu diceritakan oleh nenek saya sebelum tidur. Namun bagi orang dewasa, membaca buku ini juga merupakan sebuah keharusan. Karena ketika sudah dewasa dan membaca ini, akan muncul perasaan-perasaan melankolis dan mempunyai sudut pandang berbeda. Silahkan rasakan sendiri pengalaman membaca anda.

Seperti kebanyakan dongeng pengantar tidur. Pesan moral dari cerita ini bahwa kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan. Bagaimanapun kejamnya kejahatan itu, semengerikan apapun kejahatan itu, yang disini digambar seorang nenek sihir. Namun dengan kebaikan yang awalnya hanyalah nyala api kecil tentu akan menjadi besar. Karena kebaikan tidak pernah merugikan. Di titik inilah, kenapa tadi saya mengatakan bahwa cerita-cerita dongeng, meskipun fiksi. Justru mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia seutuhnya.

Untuk ringaksan ceritanya, tak elok rasanya saya memaparkan di sini. Cerita khas zaman dulu, ada balutan sejarah yang melekat dalam bangsa kita juga.

Namun ada beberapa catatan pribadi untuk buku ini. Sekali lagi saya katakan ini adalah catatan pribadi saya, pengalaman membaca pribadi saya. Boleh setuju, boleh juga tidak. Namun bisa dipertimbangkan.

Dari segi cerita, kita harus mafhum bahwa buku ini ditujukan untuk anak-anak. Kendati demikian, bagi orang dewasa sangat sayang sekali melewatkan untuk tidak membaca buku ini. Karena untuk anak-anak. Kalimat-kalimat yang digunakan penulis sangatlah jelas dan nisbi maksudnya. Tidak menggunakan analogi-analogi rumit yang butuh membaca dua kali jika tidak faham ketika hnaya membaca sekali. Kalimat yang digunakan sederhana dan tidak rumit. Namun jika anda pernah membaca novel-novel berat, membaca ini menjadi biasa, enteng dan gampang dibaca dengan cepat.

Dan ada bagian-bagian dari sub bab dalam buki ini yang tidak perlu dimasukkan pun tidak akan mengurangi isi cerita buku ini. Mungkin bagian tersebut memang sengaja dimasukkan melihat jumlah halaman buku ini sangatlah tipis. Misalnya bagian-bagian yang tidak perlu: kisah putri Empu Baradah, yaitu Wedawati dan kisag Empu Baradah yang pergi ke Bali menaiki daun nangka. Namun bagi anak-anak dengan segala ketakjuban imajinasinya, mungkin akan berbeda.

***

Namun dari kesemua ini. Buku ini tetaplah menjadi buku sastra wajib yang harus dibaca. Jangan khwatir merasa membaca buku ini hanya membuang-buang waktu. Karena membaca buku ini tidak membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak seperti ketika anda berusaha mengkhatamkan Tetralogi Buru. Ini bisa habis dengan cepat ketika anda menunggu ibu anda belanja, antri kamar mandi di kos-kosan ketika akan berangkat kuliah atau ketika anda datang sedikit awal ketika menjemput anak anda pulang dari sekolah.

[Read More...]


Pramoedya Ananta Toer | Rivew Rumah Kaca dan Harga di Toko Buku Online



Banyak yang mengagumi karya Pram. yang keempat yaitu "Rumah Kaca", bahkan Dunia juga mengakui karya mbah PAT itu. Diantaranya diterbitkan tahun 1997 dengan judul House of Glass, House of Glass Hard Cover, diterbitkan William Morrow & Company, Het glazen huis bahasa Belanda, Diterbitkan lagi di Belanda tahun 1988 oleh Unieboek/ Het Wereldvenster.


Klimaks dari perjalanan tokoh utama Minke yang bergelar "Raden Mas", tokoh utama bisa disimpulkan selalu berjuang dengan tulisan- tulisannya dalam memperjuangkan hak para pribumi. Namun dibuku keepat ini tokoh utama sedikit tergeser dengat munculnya Pangemann, siapa dia? (baca aja dulu bukunya hehe).

Pramoedya selalu menuangkan realita sejarah dalam novel- novelnya, penuh konflik, menegangkan bercapur penghianatan. Ada istilah menarik dalam buku ini "Pemburu menjadi yang diburu" temukan jawabannya di buku ini ^^. Masih kentara sekali rakyat dalam novel ini dikendaikan oleh kaum kolonialisme (Pangembann). Selalu ada dari tahun- ketahun penghianat negara bertopeng berwujud apapun, Waspadalah !!!. Sangat asik sekali dibaca bagi anda yang suka plot cerita yang jauh dari kata konvensional.


"Rumah Kaca" terhitung sebagai buku terberat dari segi isi, pembaca dipaksa untuk mengubah daya pandang, taka da lagi romantisme. Akan ada ditangan pembaca aura ambisius. Bosan? Bisa jadi, rasa bosan pembaca nantinya akan terobati dengan munculnya fakta-fakta dibalik kisah di tiga buku sebelumnya. Layak sekali Pram. Mendapat Nobel Dunia.

Pramoedya yang berkelahiran Blora tanggal 6 Februari 1925, telah menghasilkan lebih dari 50 karya tulis yang diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Sekilas tentang Pak Pram, beliau pernah aktif di LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat), lembaga afiliasi partai komunis. Gestapu membawanya ke pengasingan Pulau Buru, dan ditahan selama 14 tahun sebagai tahanan politik.
“Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas" Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca. Bagaimana dengan kekinian? semogan ini dibaca para kaum intelek yang salah jalur ^^.

Yang paling tragis adalah tokoh Minke mati menderita. Sebuah potret sejarah dimana bangsa ini memang mudah lupa. Mudah melupakan jasa orang orang yang memberikan jiwa dan raganya untuk kemajuan. Sebuah bangsa yang tak pandai berterima kasih. Terima kasih kepada Paramoedya yang masih mau mengingatkan........  
Akhir kata ini ada beberapa pesan mbah Pram. Dari beberapa bukunya:
  • “Kesenangan adalah tanda bahwa kematian mulai meraba jiwa manusia”. Cerita Dari Blora.
  • “Semua yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir”. Anak Semua Bangsa.
  • “Hidup tanpa harapan adalah hidup yang kosong”. Nyanyian Sunyi Seorang Bisu.
  • “Mendapat upah kerena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu dalam seni namanya pelacuran”. Pramoedya Ananta Toer.
  • “Kowé kira, kalo sudah pake pakean Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa- Tetap monyet!”. Pramoedya Ananta Toer.
  • “Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia”. Anak Semua Bangsa.
  • “Tak ada satu hal pun tanpa bayang-bayang, kecuali terang itu sendiri”. Anak Semua Bangsa.
  • “Pernah kudengar orang kampung bilang : sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya”. Anak Semua Bangsa.
  • “Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian”. Rumah Kaca
  • “Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini”. Bumi Manusia.
Buku ini layak dikoleksi dan masuk rak pribadi anda, segera dapatkan buku Pramoedya Ananta Toer “Rumah Kaca” disini. Dengan harga terjangkau. Untuk edisi ori semantara stock habis. Buruan! Fast respon di 085643413091.

Rujukan Tetralogi sebelumnya:







[Read More...]


Buku Jejak Langkah Pramoedya Ananta Toer | Review dan Harga Tebaik Toko Buku Online



Dibuku seri sebelumnya, Anak Semua Bangsa, Tokoh utama Minke mulai belajar mengenal kehidupan rakyat Hindia yang tertindas oleh kekuasaan colonial Belanda, maka diseri tetralogi ketiga yaitu Jejak Langkah ini mengisahkan perjuangan Minke mengenalkan dan  menggerakan faham  nasionalis melalui organisasi modern dan surat kabar.

(Pertama terbit pada tahun 1985)
Lentera Dipantara; Cetakan IX, Februari 2012
Softcover; xii + 724 halaman; 13 x 20 cm
ISBN: 979-97312-5-9

Harga: Rp 37.000

Pembelian bisa via 085643413091 atau langsung klik disini

Minke mendirikan Syarikat Prijaji (1906), bersama kawannya Thamrin Mohammad Thabrie, yang dua tahun sebelumnya tepatnya 1905 berdiri organisasi Boedi Oetomo (BO). 1909 atau tiga tahun kemudian Minke menggagas berdirinya Syarikat Dagang Islamijah (SDI), juga bersama Thamrin Mohammad Thabrie, dan tentu saja anggota organisasinya semakin bertambah banyak sampai menyentuh keseluruhan pulau Jawa.

Pada tahun 1907 Minke menerbitkan surat kabar pribumi yang pertama, bernama 'Medan'. Kantor redaksinya bertepatan di Jl. Naripan no. 1, Bandung. Untuk pengelolaanya, Minke dibantu oleh beberapa temannya, diantaranya Marko, Sandiman, Hendrik, Prinses van Kasiruta (istri ketiga Minke), kelahiran Maluku. 'Medan' yang tirasnya terus berkembang menjadi tempat aduan para pribumi yang tak berdaya akan kesewenang- wenangan, tertindas dan terdiskriminasi oleh hukum. Berdampak dengan apa yang disuarakan Minke lewat pers dinilai membahayakan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Jejak Langkah berbagai cover (Sumber: Goodreads)
Singkat cerita, Minke ditangkap ketika mempersiapkan berpropaganda bagi SDI (sampai ke luar Hindia). Sedangkan sebenarnya ia telah menyerahkan pengelolaan 'Medan' untuk Pimpinan Pusat SDI kepada Hadji Samadi (ketua Cabang Solo) dan orang- orang kepercayaan Minke. Walapuun Itu kata buku, namun tetap saja menarik untuk dibaca dan tentu saja dibeli J

Yang menjadi tanda Tanya besar bagi rata- rata pembaca, siapa sebenarnya Minke? Nama aslinya memang tidak pernah diungkapkan dalam 3 seri buku sebelumnya. Namun di Jejak Langkah sedikit disebutkan ketika Minke menulis setiap berita dengan inisial TAS. Berikut sekelumit penjelasan untuk menghilangkan rasa penasaran, siapa dibalik inisial  TAS?

TAS yang lebih dikenal dengan Minke dalam Tetralogi sebenarnya adalah RM Tirto Adhi Soerjo, bapaknya pers nasional, dan lebih mengherakan lagi baru diangkat menjadi pahlawan nasional November 2006. Seperti pada buku, tahun 1906 TAS mendirikan organisasi Syarikat Prijaji, setahun kemudian menerbitkan surat kabar Medan Prijaji dan tahun 1909 mendirikan Syarikat Dagang Islam. Sumber mengenai Tirto Adhi Soerjo (TAS) sudah banyak beredar diInternet.

Sedangkan tokoh Thamrin Mohammad Thabrie adalah Thamrin Mohammad Thabrie, beliau adalah Wedana (pembantu bupati) yang lahir di Batavia (Jakarta) Hindia Belanda, ayah dari Mohammad Husni Thamrin. Marko adalah Mas Marko Kartodikromo, anak didik Tirto Adhi Soerjo, sesudah gurunya wafat, hijrah ke kota Surakarta dan mendirikan surat kabar sendiri yaitu Doenia Bergerak.

istri ketiga Minke Prinses van Kasiruta mewakili Prinses Fatimah, yang senyatanya menjadi istri ketiga Tirto Adhi Soerjo, dan lebih dikenal dengan sebutan Prinses van Bacan. Hadji Samadi adalah K.H.Samanhudi.

Mempelajari, mengartikan sejarah dari Teralogi Pram itu terkesan lebih menyenangkan ketimbang membaca sendiri buku Sejarah atau PSPB bagi yang SDnya sejaman dengan babe/ nyak saya   dulu (heee anda tahu maksud saya).

“Perdagangan adalah kebebasan dari pangkat-pangkat, tak membeda-bedakan manusia, apakah penggede ataupun buruh, bahkan budak pun. Berdagang itu belajar berpikiran cepat. Mereka menghidupkan yang beku dan menggiatkan yang lumpuh”
 kurang lebih tentang quotenya mbah Pramoedya Ananta Toer, Jejak Langkah

Ada perbedaan di novel Jejak Langkah  dengan dua seri sebelumnya. Meskipun tokoh Minke tetap menjadi sorotan cerita dan tetntunya selalu menjadi sudut pandang tersendiri, dalam Jejak Langkah peran Minke kentara kental sekali. Karena dalam serial Anak Semua Bangsa, dia seolah- olah selalu dibalik bayang- baying keagungan Nyai Ontosoroh. Tidak bisa dipungkiri, ketika membaca Seri pertama dan kedua  Nyai Ontosoroh lebih kentara peran dan sepak terjangnya dibandingkan Minke. Dikarenakan Minke lebih fokus untuk menyelesaikan permasalahan hukum dan keluarga di ending Anak SemuaBangsa, Dia mengambil keputusan untuk berhijrah ke Betawi Batavia , tentu saja untuk meneruskan pencarian jati diri dan melanjutkan studi di STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yang lebih dikenal dengan sekolah kedokteran untuk kaum pribumi.

Bebarapa alasan yang menjadikan Jejak Langkah karya Tetraloginya PAT ini masuk nominasi buku terlaris sepanjang masa. Pertama alur ceritanya yang kaya dan banyak akan syarat detail sejarah. Selain yang ditemukan roman Arok Dedes, Pram menunjukkan kelihainnya mengolah fiksi dan apa yang disebut nyata dalam sejarah. Dengan Minke, pembaca dapat mengikuti proses mulai dari lahirnya sampai berkembangnya generasi pertama organisasi-organisasi pelopor pergerakan pribumi di Indonesia atau lebih dikenal Hindia tempo dulu.
Mingguan Medan Priyayi (Sumber: Mbah Wiki)

Secara langsung pembaca diajak berpikir, organisasi apa yang ditonjolkan dalam buku ini? Ya tentu saja Syarikat Priyayi, Budi Utomo, dan Syarikat Dagang Islamiyah. Meskipun bukan termasuk organisasi pergerakan, Medan Priyayi sebagai awak media dizaman itu, memiliki peran tersendiri dalam mendukung kegiatan organisasi-organisasi yang lagi didirikan. Adanya Medan Priyayilah yang justru langsung tepat sasaran memberikan pengaruh luar biasa kepada khayalak ramai mengemban misi menggugah kesadaran bangsa dan berujung bangkitnya rasa nasionalisme masyarakat.
Pram juga menuturkan sebagian besar tokoh- tokoh dalam kemajuan pergerakan nasional diawal karirnya. Selain itu ada beberapa lagi ang berperan penting pada awal pergerakan nasional, diantaranya ada Thamrin Mohammad Thabrie (ayah M.H. Thamrin), Gadis Jepara (R.A. Kartini), Dewi Sartika, Haji Samadi (K.H. Samanhudi), Marko (Marco Kartodikromo), dan Abdoel Moeis. Sebagian besar tokoh tersebut tidak hanya sebagai figuran saja. Justu mereka memiliki andil besar dalam membantu perjuangan Minke. Misa Thamrin M.T yang berjasa dalam pembentukan Syarikat Priyayi dan Marko yang bertugas sebagai bodyguard Minke serta ikut membantu kegiatan operasional Medan Priyayi. 
R.M. Tirto Adhi Soerjo(Sumber: Wikipedia)
Hal menarik lain dalam buku ini adalah kemajuan Minke dari segi karakter. Minke semakin menunjukkan sisi dewasanya, kematangannya dalam bertindak. Ibarat sudah saatnya melepaskan diri dari induk semangya yaitu Nyai Ontosoroh. Tanpa campur tangan orang lain Minke pun akhirnya busa mengambil keputusan sendiri. Beberapa situasi yang dihadapinya ketika menjadi siswa STOVIA juga sangat membantu dirinya belajar dewasa dan mandiri. Terlihat dari kebiasaanya bertukar pendapat dengan Ang San Mei, sebagai tokoh yang selalu berpikiran selangkah kedepan dan progresif. Selain daripada itu Minke sudah dibekali segudang pengalaman yang keras, itupun dia dapatkan dan dialami secara langsung. Surabayalah penggembleng pribadi alami Minke untuk menjadi sosok yang anti badai. Sehingga ketika dia dikeluarkan dari STOVIA pun, hal itu tidaklah menjadi masalah besar baginya. Justru dia mampu memanfaatkannya sebagai titik balik kebangkitannya.
Kutipan PAT yang masuk daftar favoritku:

"Dan modern adalah juga kesunyian anak yatim piatu, dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya." (Mingke, hal. 2)

"Ilmu-pengetahuan, Tuan-tuan, betapapun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia--dia pun tak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsa." (Van Kollewijn, hal. 41).

Larangan Terbit Jejak Langkah & Sang Pemula pada masa Orba:


Tempo no 14 xvi 31 Mei 1986
Majalah Forum no 14 tahun IV, 23 Oktober 95
Majalah Forum no 14 tahun IV, 23 Oktober 95
Sumber gambar koran by om Priyono. semoga bermanfaat
Salam...


[Read More...]


 
Return to top of page Copyright © 2013- 2015 | Platinum Theme modification by Alfian Haris