Serambi Seribu Serbi

space disewakan

Tahun Baru Bersama Mustofa Bisri



Di Awal tahun masehi ini, kita disuguhi dengan berbagai macam musibah besar, Seperti Jatuhnya pesawat lokal yang memakan banyak korban, apakah kita masih sempat merayakannya kepiluan ini, kalut mungkin bukan pilihan kata yang tepat, sebaiknya daripada diterusin malah kagak nyambung yuk kita sruput aja karyanya Gus Mus. Sebagi seorang sastrawan, tak henti- hentinya simbah kakung kita terus berkarya, mari dinikmati karya beliau dibawah ini dengan indahnya berbagi.


// dari hari ke hari/bunuh diri pelan pelan/ dari tahun ke tahun/ 
bertimbun luka di badan/ maut menabungKu segobang segobang

(“Hemat” Sutardji Calzoum Bachri) // 



Saya tak pernah betul-betul memahami, mengapa orang –khususnya di kota-kota--selalu menyambut Tahun Baru dengan suka ria. Pesta-pesta dan hura-hura untuk memeriahkan pergantian tahun dilangsungkan dimana-mana bahkan sering kali dengan menghamburkan uang yang tidak sedikit. Apakah itu sekedar mengikuti tradisi yang sudah berjalan atau merupakan naluri dari kesenangan manusia terhadap sesuatu yang baru. Senang Tahun Baru seperti senang kepada baju atau sepatu baru, atau naluri senang kepada peningkatan dan pertambahan. Tahun kita kemarin hanya 2003, kini menjadi 2004; ada pertambahan dan peningkatan satu angka. Atau ada kaitannya dengan rasa tafa-ul seperti orang menyambut menyingsingnya matahari yang menjanjikan pagi yang cerah setelah gelap malam? 





Padahal bukankah tahun baru justru berarti pengurangan terhadap umur kita? Apakah kita tidak menyadari hal ini? Ataukah kita memang bergembira setiap umur kita berkurang, karena umur yang kita ‘tabung’ memang cukup bernilai untuk kita petik kelak di saat kita sangat memerlukan? Kalau demikian, bukankah momentum tahun baru merupakan ketika paling baik untuk merenungkan dan mengevaluasi umur yang telah kita pakai bagi peningkatan kualitas penggunaannya pada masa-masa mendatang? 
Kehidupan yang monoton dan rutin yang kita jalani dengan terus begitu-begitu saja, di samping cenderung menjenuhkan, dapat membuat kita tidak menyadari keterbatasan umur kita dan pada akhirnya kematian pun selalu terasa mendadak. Apabila kemonotonan dan kerutinan itu pada amal yang baik, Alhamdulillah, malah ini mungkin yang disebut istiqamah. Tapi apabila sebaliknya, na’udzu billah.



Mereka yang terus menerus melecehkan hukum misalnya, apakah tidak khawatir kehabisan umur ketika sedang melecehkan hukum? Mereka yang terus menerus melakukan korupsi, apakah tidak khawatir pada waktu korupsi tiba-tiba umurnya habis? Mereka yang terus menerus jual tampang menipu rakyat, apakah tidak khawatir tiba-tia terhenti bagaikan mobil yang kehabisan bensin ketika sedang asyik menipu? Mereka yang terus bertikai dengan saudara sendiri, apakah tidak khawatir tiba-tiba ludes umurnya sebelum menyadari keremeh-temehan alasan mereka bertikai? Demikian sederet pertanyaan serupa bisa diajukan kepada siapa saja yang secara ‘rutin’ melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain seperti melakukan kewajaran. 



Pertanyaan itu diajukan antara lain karena kenyataan telah sering membuktikan kebenaran dawuh: “Maatal mar-u ‘alaa maa ‘aasya”, Orang mati sesuai hidupnya. Ada kiai di Jawa Tengah yang meninggal saat sujud; ada guru yang meninggal saat mengajar; ada intelektual yang meninggal saat ceramah; dst. Tapi kita juga membaca berita ada tokoh masyarakat yang mati di hotel dalam pelukan pelacur; ada yang mati mendadak ketika sedang menghitung uang suap; dan masih banyak lagi yang tidak diberitakan.



Yang membuat banyak orang khawatir, ternyata dalam kehidupan ramai berbangsa dan bernegara pun tampaknya menjalani kehidupan yang itu- itu saja juga terus berlangsung. KKN terus merajalela. Sogok-menyogok terus marak. Rekayasa busuk terus berlangsung. Keserakahan terus tak terkendali. Dunia keagamaan masih terus diramaikan dengan saling memutlakkan pemahaman dan pendapat sendiri, seolah-olah masing-masing wakil resmi Tuhan. Dunia politik masih terus didominasi mereka yang berebut kekuasaan dan fanatisme kelompok. Para pejabat dan wakil rakyat masih terus pamer kegagahan dan kelihaian menjauhi rakyat. Dunia usaha masih terus dipenuhi dengan tindakan spekulasi dan keserakahan model mafia. Dunia hukum masih terus dipusingkan oleh hakim-hakim dan para penegak hukum yang taktahu menghargai hukum. Dan sebagainya dan seterusnya.



Apakah tahun baru ini pun tak menjanjikan perubahan?



Catatan: Seperti terbaca dalan tulisan di atas, ini saya tulis 5 tahun yang lalu. Adalah sungguh menyedihkan bila tulisan ini ternyata seperti baru saja saya tulis. Berarti kondisi kita seperti ‘berjalan di tempat’.

[Read More...]


Kreteria dan Etika Hakim Dari Sudut Pandang Keislaman



[Read More...]


Indonesia Pesantren Mengaji dan Mengkaji



Assalamu' alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kali ini saya akan mencoba menyuguhkan materi dan resume pengajian Sa'id Aqil Shiroth di Ponpes Nurul Jadid Pamekasan, langsung saja

Seperti kita ketahui Islam itu agama yg besar di Indoesia pun agama ini berkembang besar dan pesat semoga, pesantren adalah element penting yang tak boleh terhapus, dikarenakan pesantren wajib menjaga melestarikan Indonesia.  Soal Organsasi politik, dunia pemilihan itu nomer kesekian.

Pesantren dibangun di plosok- plosok karena ingin menyelamatkan kemurnian agama Islam dan tentunya tak lepas juga ingin membangun tatanan sosial kapital bagi pilar Negara. NU dan Pesantren merupakan elemen yang sukar untuk dipisahkan, yang super visinya wasathon dan idolanya wayakuna rosulu 'ala syahida. Pesantren ingin mencetak umat yang berilmu dan bersinergi mutamaddin/ berbudaya berperadaban seperti 120 assabiquna awwalun. Ketika Baginda Muhammad pindah, hijrah  ke Yasribpun bertujuan untuk membangun ummat wasathan, modern, cerdas, akan membangun peradaban. Jangan jadi penonton  tapi pelaku, tidak menonton tapi main dan bukan dalam dunia politik saja tentunya.


Kebesaran itu tanpa ideologi agama dan tanpa peradaban  tak langgeng. Islam tak berperadaban (Paus) ini kalimat yang salah besar. Ayo terus mengaji cari ilmu dari berbagi zaman dan jangan lupa sesuaikan dengan zamannya singkronkan agar bisa saling bersinergi. Belajar pakai pen utawi, iki, iku itu fi'il madzinya alias past tense, mudzore'nya baca Fatkhul Qorib, Mu'in, tafsir, balaghah pakai leptop, tablet :)

Misal  hiwalah bahasa lainnya letter of credit contoh langsung tambang di Kalimantan sebenarnya 60% buat perusahaan, 20% untuk pemerintah 15% daerah, itu namanya Liger, namun jarang yang mengetahui pemerintahpun tak turut capur polisipun tak sudi. karena urusan internasional, bayarpun gak langsung di luar negeri. Contoh lain (Ngejoki rego red: jawa) bursa saham. Yatafaqqohu mudzore' untuk ngajinya agar melangkah maju, misal lainnya. ngaji itu harus sesuai dengan zaman up to date, seperti yang diperintahkan dalam Al- Qur'an. lainnya contoh asuransi atau tabarru'at, urunan, akan tetapi asuransi sekarang yang ditangani diurusi PT dan untungnya bukan untuk umat hanya untuk kekayaan sendiri, silahkan dianalisis.

ada sebuah kitab tipis 5 lembaran yaitu kitab Ja'a Zaidun bisa dikatagorikan tense supaya berpikir obyektif misal dalam menilai ketokohan, haruslah positif dan negatif harus imbang baik dari esensi, kuantiti, quality, relasi/ idzofah, time, place atau tempat, posisi (kana muttaki), punya apa? atau to have, action, reaksi. Wahab Chasbullah yang memiliki ide mendirikan NU, dan mbah Hasyim yang menyetujuinya. tidak langsung terbentuk dimulai dari kajian 26 tahun tanpa proposal. Memahami Al-Qur'an  Hadis secara tek saca salah, misal hadis pipis menghadap timur barat dipraktikkan disini salah karena dulu rasul bersabda ketika ada di Madinah.

Anak kemarin sore mengkafirkan Sayyidina Ali mentang- mentang pakai jubah, jidat hitam. Ali, Khodijah pertama kali sholat cuma 3 orang, jangan mendalami Qur'an secara jumud. menjalani islam tanpa Bid'ah tidak bisa . Jika ingin kembali dimasa rosul pakai Qur'an tanpa titik, apa bisa baca? bid'ahkan titik?, selanjutnya muncul bid'ah harokah, sakl kemudian membaca Al- quran masih sulit tahun tahun 1224 H muncul ilmu Tajwid. Kita tidak bisa menjalani Islam dengan benar kecuali dengan ilmu dan ilmu itu bid'ah dan untuk menjaga keorisinilan kita harus Taklid kepada Ulama' terdahulu, kita sholat belajar dari mana? jawablah Qur'an, itu bohong. berapa rakaat rukunnya apa yang membatalkannya? itu yang bersepakat ulama'/ kyai.

Berurusan dengan tempat kita tidak bisa ijtihad, taklid wajib misal jakarta. Kenapa madzhab Wahabi lakunya di Indonesia, Pakistan, Bangladesh? karena khususnya di Indonesia ada 100 juta lebih WNI masih belum terorganisir yang masih bisa dipangaruhi karena belum jelas, gimana pemikirannya? NU 40 juta apakah bekembang, belum. karena konsep kekeluargaannya masih kental. belum ada yang dari luar misal ketua Anshor mana dari keluarga Cendana dkk. itu belum bisa dikatakan berkembang. Dan cara berinteraksi dengan orang non muslim asal dia berbuat baik/ birr tidak apalah dalam Al-quran dijelaskan boleh dan yang tidak itu bergaul dengan non Muslim yang memusuhi itu dikatagorikan akhlak.

Ahmadiyah salah, menodai islam dalam akidah. FPI salah, menodai islam dalam akhlak. Wasathan tidak tebang pilih, Mutamaddin tegak untuk supremasi hukum. Jadilah contoh bagi umat yang lain, sekarang terbalik Negara muslim bertengkar yang mendamaikan Eropa, yang mengajarkan rosul yang mengamalkan orang lain, Syari'ah kita baik tapi mutamaddinnya Eropa bagus. Dulu yai Wahab bikin NU bukan untuk politik idiologi yang utama untuk dakwah, membangun. Baca sholawatpun jangan sholawat  Badar aja itu sholawat perang, Burdah juga yang bersifat menenangkan yang makna katanya selimut.

Semoga  pesantren terus berkembang, carilah yang kau belum tahu yang orang lain belum punya dan jangan lupa sampaikan. Jangan kecil hati sampaikan jangan khawatir das ich uber ich,  penuh dan terpenuhi akan menggoncang. Arifin Ilham dzikirnya kampungan tapi pengikutnya para direktur para elit, Toriqah di kampung dzikir elit tapi pesertanya kampung. Sebenarnya kita hanya kurang cerdas dalam mengemas.  Dizikir karena resah goncang, galau tapi kalau pas tenang berheti dzikirnya kalau didalam Tasawuf beda kita terus berdzikir karena mengejar maqom wara' ,zuhud, urf dll

Semoga bermanfaat. Yogyakarta.
Komentar dan koreksi sahabat kami tunggu banget :) Terimakasih



[Read More...]


Kumpulan Catatan Harian Kajian Pagi PP. Ulil Albab 1



Pagi itu kami beberapa santri PP. Ulil Albab memulai kajian rutin paginya, langsung menggelegar ditelinga kami bahwasanya buruk dan gelap sering terbungkus dengan yang kelihatannya baik
  Lansung saja: 

- An Naml 54
 
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ (٥٤) أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ       ( ٥٥) - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-naml-ayat-45-55.html#sthash.3CTICtm5.dpuf
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ (٥٤) أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ       ( ٥٥) - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-naml-ayat-45-55.html#sthash.3CTICtm5.dpuf
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ (٥٤) أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ       ( ٥٥) - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-naml-ayat-45-55.html#sthash.3CTICtm5.dpuf

waluuthan idz qaala liqawmihi ata/tuuna alfaahisyata wa-antum tubshiruun

 Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah [1102] itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?"

* fahisyah (keji) bisa diartikan penyakit/ kangker, bisa dikatakan demikian karena ayat ini ditunjukkan untuk para kaum homoseks/ penyuka sesama jenis yang salah menepatkan sesuatu pada tempatnya
[26] Yaitu homoseks. Disebut perbuatan keji,. Karena dianggap keji oleh akal, fitrah dan semua syariat.
[27] Yakni mengetahui buruk dan kejinya perbuatan itu, tetapi kamu malah mengerjakannya karena zalim dan berani kepada Allah.
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-naml-ayat-45-55.html#sthash.3CTICtm5.dpuf
[26] Yaitu homoseks. Disebut perbuatan keji,. Karena dianggap keji oleh akal, fitrah dan semua syariat.
[27] Yakni mengetahui buruk dan kejinya perbuatan itu, tetapi kamu malah mengerjakannya karena zalim dan berani kepada Allah.
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-naml-ayat-45-55.html#sthash.3CTICtm5.dpuf
- ayat 55, 

a-innakum lata/tuuna alrrijaala syahwatan min duuni alnnisaa-i bal antum qawmun tajhaluuna
55. "Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)".

*tidak memandang buruk suatu keburukan suatu keburukan bisa dikatakan fatal

ngedeng= nekat/ betul2 ditunjukkan

kesimpulan:

tidak boleh ingkar dengan fitrah

وكل   مولود  يولد علي الفطره

  Fitrah:
- qorin/sifat=  malaikat/ penenang, syaitaniyyah/ penggoyang   
- ruh=  manusiawi, hewani/tumbuhan
- nafsu
- akal

Kita didunia ini diwajibkan untuk belajar bahkan sampai liang lahat entar, makanya mari belajar yang teratur & rileks agar tidak tergopoh- gopoh

Menghafal Alqur'an itu bisa dikatakan belajar juga namun beberapa penghafal cenderung kurang dalam penganalisisannya maka dari itu harus diimbangi dengan belajar memahami maksud dari ayat tersebut sedikit demi sedikit

Salah satu hal lagi yang menjadikan seseorang menjadi gemar belajar ialah dengan latihan basitoh/ gembirakan dahulu agar semakin bersemangat dalam mendalami samudra ilmu yang luas

Rangkuman kajian pagi Ulil Albab 1

Tunggu dan ikuti terus rangkuman kami selanjutnya. Terimakasih
[Read More...]


JEDA



JEDA

Seseorang berkata, “Jika kamu lebih menyukai diam, maka bicaralah. Namun, kalau kamu lebih menggandrungi bicara, maka diamlah”. Ini bukan soal mana yang lebih baik antara keduanya, namun lebih kepada menahan kesenangan atau hawa nafsu. Bisa jadi bicara itu lebih baik daripada diam dalam satu kondisi, pun juga sebaliknya. Tetapi jangan lupa, disana juga ada yang mengatakan, “Jika seseorang tidak menggunakan diam dalam bicaranya, maka ia tergolong kaum yang ‘kurang cerdas’”. Pitutur seperti ini, menurut penulis lebih beraksentuasi kepada ‘jeda’. Bukan hanya sekadar memberi jeda ketika bicara saja, namun juga jeda dalam hal apa saja, termasuk berpikir dan bekerja.

[Read More...]


Fatwa- Fatwa Penting





IMAM MALIK
االامام مالك

روى الخلال عن ابى بكر المروزى قال : سمعت أبا عبد الله يقول :

قال مالك : الذى يشتم اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم

ليس لهم اسم او قال نصيب فى الاسلام.

( الخلال / السن: ۲،٥٥٧ )

Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam”
.
( Al Khalal / As Sunnah, 2-557 )

Begitu pula Ibnu Katsir berkata, dalam kaitannya dengan firman Allah surat Al Fath ayat 29, yang artinya :
“ Muhammad itu adalah Rasul (utusan Allah). Orang-orang yang bersama dengan dia (Mukminin) sangat keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keridhaanNya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, karena bekas sujud. Itulah contoh (sifat) mereka dalam Taurat. Dan contoh mereka dalam Injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya (yang kecil lemah), lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang-orang yang menanamnya. (Begitu pula orang-orang Islam, pada mula-mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat), supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal salih diantara mereka”.
Beliau berkata : Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik, beliau mengambil kesimpulan bahwa golongan Rofidhoh (Syiah), yaitu orang-orang yang membenci para sahabat Nabi SAW, adalah Kafir.
Beliau berkata : “Karena mereka ini membenci para sahabat, maka dia adalah Kafir berdasarkan ayat ini”. Pendapat tersebut disepakati oleh sejumlah Ulama.

(Tafsir Ibin Katsir, 4-219)

Imam Al Qurthubi berkata : “Sesungguhnya ucapan Imam Malik itu benar dan penafsirannya juga benar, siapapun yang menghina seorang sahabat atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan seru sekalian alam dan membatalkan syariat kaum Muslimin”.

(Tafsir Al Qurthubi, 16-297).

IMAM AHMAD
الامام احمد ابن حمبل
:
روى الخلال عن ابى بكر المروزى قال : سألت ابا عبد الله عمن يشتم
 
أبا بكر وعمر وعائشة ؟  قال: ماأراه على الاسلام
.
( الخلال / السنة : ۲، ٥٥٧)


Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya berpendapat bahwa dia bukan orang Islam”.

( Al Khalal / As Sunnah, 2-557).

Beliau Al Khalal juga berkata : Abdul Malik bin Abdul Hamid menceritakan kepadaku, katanya: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata : “Barangsiapa mencela sahabat Nabi, maka kami khawatir dia keluar dari Islam, tanpa disadari”.

(Al Khalal / As Sunnah, 2-558).

Beliau Al Khalal juga berkata :

وقال الخلال: أخبرنا عبد الله بن احمد بن حمبل قال : سألت أبى عن رجل شتم رجلا

من اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم فقال : ما أراه على الاسلام

(الخلال / السنة : ۲،٥٥٧)

“ Abdullah bin Ahmad bin Hambal bercerita pada kami, katanya : “Saya bertanya kepada ayahku perihal seorang yang mencela salah seorang dari sahabat Nabi SAW. Maka beliau menjawab : “Saya berpendapat ia bukan orang Islam”.

(Al Khalal / As Sunnah, 2-558)


Dalam kitab AS SUNNAH karya IMAM AHMAD halaman 82, disebutkan mengenai pendapat beliau tentang golongan Rofidhoh (Syiah) :

“Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari sahabat Muhammad SAW dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya, kecuali hanya empat orang saja yang tidak mereka kafirkan, yaitu Ali, Ammar, Migdad dan Salman. Golongan Rofidhoh (Syiah) ini sama sekali bukan Islam.


AL BUKHORI
الامام البخارى
.
قال رحمه الله : ماأبالى صليت خلف الجهمى والرافضى
 
أم صليت خلف اليهود والنصارى

ولا يسلم عليه ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم
.
( خلق أفعال العباد :١٢٥)


Iman Bukhori berkata : “Bagi saya sama saja, apakah aku sholat dibelakang Imam yang beraliran JAHM atau Rofidhoh (Syiah) atau aku sholat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani. Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka.
(Imam Bukhori / Kholgul Afail, halaman 125).

AL FARYABI

الفريابى :

روى الخلال قال : أخبرنى حرب بن اسماعيل الكرمانى

قال : حدثنا موسى بن هارون بن زياد قال: سمعت الفريابى ورجل يسأله عمن شتم أبابكر

قال: كافر، قال: فيصلى عليه، قال: لا. وسألته كيف يصنع به وهو يقول لا اله الا الله،

قال: لا تمسوه بأيديكم، ارفعوه بالخشب حتى تواروه فى حفرته.

(الخلال/السنة: ۲،٥٦٦)


Al Khalal meriwayatkan, katanya : “Telah menceritakan kepadaku Harb bin Ismail Al Karmani, katanya : “Musa bin Harun bin Zayyad menceritakan kepada kami : “Saya mendengar Al Faryaabi dan seseorang bertanya kepadanya tentang orang yang mencela Abu Bakar. Jawabnya : “Dia kafir”. Lalu ia berkata : “Apakah orang semacam itu boleh disholatkan jenazahnya ?”. Jawabnya : “Tidak”. Dan aku bertanya pula kepadanya : “Mengenai apa yang dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga telah mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh?”. Jawabnya : “Janganlah kamu sentuh jenazahnya dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan kayu sampai kamu turunkan ke liang lahatnya”.

(Al Khalal / As Sunnah, 6-566)
.
AHMAD BIN YUNUS

Beliau berkata : “Sekiranya seorang Yahudi menyembelih seekor binatang dan seorang Rofidhi (Syiah) juga menyembelih seekor binatang, niscaya saya hanya memakan sembelihan si Yahudi dan aku tidak mau makan sembelihan si Rofidhi (Syiah), sebab dia telah murtad dari Islam”.

(Ash Shariim Al Maslul, halaman 570).

ABU ZUR’AH AR ROZI


أبو زرعة الرازى.

اذا رأيت الرجل ينتقص أحدا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم

فاعلم أنه زنديق، لأن مؤدى قوله الى ابطال القران والسنة.

( الكفاية : ٤٩)


Beliau berkata : “Bila anda melihat seorang merendahkan (mencela) salah seorang sahabat Rasulullah SAW, maka ketahuilah bahwa dia adalah ZINDIIG. Karena ucapannya itu berakibat membatalkan Al-Qur'an dan As Sunnah”.

(Al Kifayah, halaman 49).

ABDUL QODIR AL BAGHDADI

Beliau berkata : “Golongan Jarudiyah, Hisyamiyah, Jahmiyah dan Imamiyah adalah golongan yang mengikuti hawa nafsu yang telah mengkafirkan sahabat-sahabat terbaik Nabi, maka menurut kami mereka adalah kafir. Menurut kami mereka tidak boleh di sholatkan dan tidak sah berma’mum sholat di belakang mereka”.

(Al Fargu Bainal Firaq, halaman 357).

Beliau selanjutnya berkata : “Mengkafirkan mereka adalah suatu hal yang wajib, sebab mereka menyatakan Allah bersifat Al Bada’

IBNU HAZM

Beliau berkata : “Salah satu pendapat golongan Syiah Imamiyah, baik yang dahulu maupun sekarang ialah, bahwa Al-Qur'an sesungguhnya sudah diubah”.
Kemudian beliau berkata : ”Orang yang berpendapat bahwa Al-Qur'an yang ada ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan mendustakan Rasulullah SAW”.

(Al Fashl, 5-40).

ABU HAMID AL GHOZALI

Imam Ghozali berkata : “Seseorang yang dengan terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar Rodhialloh Anhuma, maka berarti ia telah menentang dan membinasakan Ijma kaum Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan surga kepada mereka dan pujian bagi mereka serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka serta kelebihan mereka dari manusia-manusia lain”.
Kemudian kata beliau : “Bilamana riwayat yang begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir, maka orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan Rasulullah. Sedangkan orang yang mendustakan satu kata saja dari ucapan beliau, maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang tersebut adalah kafir”.

(Fadhoihul Batiniyyah, halaman 149).


AL QODHI IYADH

Beliau berkata : “Kita telah menetapkan kekafiran orang-orang Syiah yang telah berlebihan dalam keyakinan mereka, bahwa para Imam mereka lebih mulia dari pada para Nabi”.
Beliau juga berkata : “Kami juga mengkafirkan siapa saja yang mengingkari Al-Qur'an, walaupun hanya satu huruf atau menyatakan ada ayat-ayat yang diubah atau ditambah di dalamnya, sebagaimana golongan Batiniyah (Syiah) dan
Syiah Ismailiyah”.

(Ar Risalah, halaman 325).

AL FAKHRUR ROZI

Ar Rozi menyebutkan, bahwa sahabat-sahabatnya dari golongan Asyairoh mengkafirkan golongan Rofidhoh (Syiah) karena tiga alasan :
Pertama: Karena mengkafirkan para pemuka kaum Muslimin (para sahabat Nabi). Setiap orang yang mengkafirkan seorang Muslimin, maka dia yang kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW, yang artinya : “Barangsiapa berkata kepada saudaranya, hai kafir, maka sesungguhnya salah seorang dari keduanya lebih patut sebagai orang kafir”.
Dengan demikian mereka (golongan Syiah) otomatis menjadi kafir.
Kedua: “Mereka telah mengkafirkan satu umat (kaum) yang telah ditegaskan oleh Rasulullah sebagai orang-orang terpuji dan memperoleh kehormatan (para sahabat Nabi)”.
Ketiga: Umat Islam telah Ijma’ menghukum kafir siapa saja yang mengkafirkan para tokoh dari kalangan sahabat.

(Nihaayatul Uguul, Al Warogoh, halaman 212).

IBNU TAIMIYAH

Beliau berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa Al-Qur'an telah dikurangi ayat-ayatnya atau ada yang disembunyikan, atau beranggapan bahwa Al-Qur'an mempunyai penafsiran-penafsiran batin, maka gugurlah amal-amal kebaikannya. Dan tidak ada perselisihan pendapat tentang kekafiran orang semacam ini”
Barangsiapa beranggapan para sahabat Nabi itu murtad setelah wafatnya Rasulullah, kecuali tidak lebih dari sepuluh orang, atau mayoritas dari mereka sebagai orang fasik, maka tidak diragukan lagi, bahwa orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan penegasan Al-Qur'an yang terdapat di dalam berbagai ayat mengenai keridhoan dan pujian Allah kepada mereka. Bahkan kekafiran orang semacam ini, adakah orang yang meragukannya? Sebab kekafiran orang semacam ini sudah jelas....

(Ash Sharim AL Maslul, halaman 586-587).

SYAH ABDUL AZIZ DAHLAWI

Sesudah mempelajari sampai tuntas mazhab Itsna Asyariyah dari sumber-sumber mereka yang terpercaya, beliau berkata : “Seseorang yang menyimak aqidah mereka yang busuk dan apa yang terkandung didalamnya, niscaya ia tahu bahwa mereka ini sama sekali tidak berhak sebagai orang Islam dan tampak jelaslah baginya kekafiran mereka”.

(Mukhtashor At Tuhfah Al Itsna Asyariyah, halaman 300).

MUHAMMAD BIN ALI ASY SYAUKANI

Perbuatan yang mereka (Syiah) lakukan mencakup empat dosa besar, masing-masing dari dosa besar ini merupakan kekafiran yang terang-terangan.
Pertama : Menentang Allah.
Kedua : Menentang Rasulullah.
Ketiga : Menentang Syariat Islam yang suci dan upaya mereka untuk melenyapkannya.
Keempat : Mengkafirkan para sahabat yang diridhoi oleh Allah, yang didalam Al-Qur'an telah dijelaskan sifat-sifatnya, bahwa mereka orang yang paling keras kepada golongan Kuffar, Allah SWT menjadikan golongan Kuffar sangat benci kepada mereka. Allah meridhoi mereka dan disamping telah menjadi ketetapan hukum didalam syariat Islam yang suci, bahwa barangsiapa mengkafirkan seorang muslim, maka dia telah kafir, sebagaimana tersebut di dalam Bukhori, Muslim dan lain-lainnya.

(Asy Syaukani, Natsrul Jauhar Ala Hadiitsi Abi Dzar, Al Warogoh, hal 15-16)


PARA ULAMA SEBELAH TIMUR SUNGAI JAIHUN

Al Alusi (seorang penulis tafsir) berkata : “Sebagian besar ulama disebelah timur sungai ini menyatakan kekafiran golongan Itsna Asyariyah dan menetapkan halalnya darah mereka, harta mereka dan menjadikan wanita mereka menjadi budak, sebab mereka ini mencela sahabat Nabi SAW, terutama Abu Bakar dan Umar, yang menjadi telinga dan mata Rasulullah SAW, mengingkari kekhilafahan Abu Bakar, menuduh Aisyah Ummul Mukminin berbuat zina, padahal Allah sendiri menyatakan kesuciannya, melebihkan Ali r.a. dari rasul-rasul Ulul Azmi. Sebagian mereka melebihkannya dari Rasulullah SAW dan mengingkari terpeliharanya Al-Qur'an dari kekurangan dan tambahan”.

(Nahjus Salaamah, halaman 29-30).

Demikian telah kami sampaikan fatwa-fatwa dari para Imam dan para Ulama yang dengan tegas mengkafirkan golongan Syiah yang telah mencaci maki dan mengkafirkan para sahabat serta menuduh Ummul mukminin Aisyah berbuat serong, dan berkeyakinan bahwa Al-Qur'an yang ada sekarang ini tidak orisinil lagi (Mukharrof). Serta mendudukkan imam-imam mereka lebih tinggi (Afdhol) dari para Rasul.
Semoga fatwa-fatwa tersebut dapat membantu pembaca dalam mengambil sikap tegas terhadap golongan Syiah.
“Yaa Allah tunjukkanlah pada kami bahwa yang benar itu benar dan jadikanlah kami sebagai pengikutnya, dan tunjukkanlah pada kami bahwa yang batil itu batil dan jadikanlah kami sebagai orang yang menjauhinya.”
 
[Read More...]


 
Return to top of page Copyright © 2013- 2015 | Platinum Theme modification by Alfian Haris