Serambi Seribu Serbi

space disewakan

Catatan Pulau Buru PERAWAN REMAJA dalam CENGKERAMAN MILITER



" . . . kalian para perawan remaja , telah aku susun surat ini untuk kalian , bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang bisa menimpa para gadis seumur kalian , juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu . . . surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes , sekali pun kejadiannya telah puluhan tahun lewat . . . "
sekarang sudah tersedia Rp 35.000,00
sementara medsos of ya gan kecuali via fb atau di 085643413091 

[Read More...]


Al- Qur'an dan Maknanya. M. Quraish Shihab




Al-Quran dan Maknanya adalah sebuah karya yang dimaksudkan untuk membantu pembaca Indonesia, khususnya umat Islam, dalam memahami makna ayat-ayat al-Quran. Karya ini tidak dijuduli al-Quran dan Terjemahannya karena penulis karya ini, M. Quraish Shihab, sangat menyadari bahwa al-Quran adalah sebuah kitab suci yang tidak mungkin dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Yang dapat dilakukan para mufasir hanya sebatas mengungkap maknanya, bukan menerjemahkannya!
Keunggulan dan Kelebihan karya ini:
1. Kandungan al-Qur'an lebih mudah dipahami
2. Bahasanya lebih menjelaskan
3. Dilengkapi dengan asbabun nuzul
4. Dilengkapi catatan kaki yang berisi penjelasan tentang istilah-istilah tertentu
5. Berisi sejumlah koreksi penulis terhadap kekurangtepatan pemaknaan istilah-istilah tertentu yang digunakan al-Qur'an dalam karya sejenis.
Bonus MP3 Murattal 30 Juz
Ukuran : 16 x 24 cm
Jenis cetak : Hardcover
Harga : Rp149.000

NB: belum termasuk ongkir
[Read More...]


Sudahlah, Maafkan saja



Sudahlah, Maafkan saja
Bayangkan Anda sedang menghadiri pesta yang amat meriah. Semua orang tampil dengan pakaian terbaik. Makanan yang dihidangkanpun tampak lezat dan mengundang selera. Saat Anda antre untuk mengambil makanan, tiba-tiba seseorang yang sangat Anda percaya berbisik di telinga Anda, ''Hati-hati, banyak makanan tak halal disini, bahkan ada beberapa yang beracun!''
Saya berani menjamin Anda akan mengurungkan niat mengambil makanan. Boleh jadi Anda pun langsung pulang ke rumah. Anda benar, hanya orang bodohlah yang mau menyantap makanan tersebut. Kita tak mau makan sembarangan. Kita sangat peduli pada kesehatan kita.
Anehnya, kita sering -- bahkan dengan sengaja -- memasukkan ''makanan-makanan beracun'' ke dalam pikiran kita. Kita tak sadar bahwa inilah sumber penderitaan kita. Salah satu makanan yang paling berbahaya tersebut bernama: ketidakmauan kita untuk memaafkan orang lain!
Ketidakmauan memaafkan adalah penyakit berbahaya yang menggerogoti kebahagiaan kita. Kita sering menyimpan amarah. Kita marah karena dunia berjalan tak sesuai dengan kemauan kita. Kita marah karena pasangan, anak, orang tua, atasan, bawahan, dan rekan kerja, tak melakukan apa yang kita inginkan. Lebih parah lagi, kita memendam kemarahan ini berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.
Memang banyak sekali kejadian yang memancing emosi kita. Pengendara motor yang memaki kita, mobil yang menyalib dan hampir membuat kita celaka, orang yang membobol ATM kita, adik yang sering minta bantuan tapi tak pernah mengucapkan terima kasih, pembantu yang membohongi kita, maupun bos yang pelitnya luar biasa. Kita mungkin berpikir bahwa orang-orang tak tahu diri ini sudah sepantasnya kita benci. Tapi kita lupa bahwa kebencian yang kita simpan hanyalah merugikan kita sendiri.
Sudah menjadi tabiat manusia, tatkala hatinya disakiti, dia akan merasa sakit hati dan boleh jadi berujung dengan kedendaman. Walaupun demikian, bukan berarti kita harus dendam setiap kali ada yang menyakiti. Malah sebaliknya, jika kita dizalimi, maka doakanlah orang-orang yang menzalimi itu agar bertaubat dan menjadi orang saleh. Mampukah kita melakukannya?
Para Nabi-Nabi adalah sosok yang hatinya bersih dari sifat dendam. Walau ia dihina, dicacimaki, difitnah, bahkan hendak dibunuh, tak sedikit pun ia mendendam. Bahkan, ia mati-matian berbuat baik kepada orang-orang tersebut dan begitu ringannya ia memaafkan.
Penelitian menunjukkan ketidakrelaan memaafkan orang lain memiliki dampak hebat terhadap tubuh kita: menciptakan ketegangan, mempengaruhi sirkulasi darah dan sistem kekebalan, meningkatkan tekanan jantung, otak dan setiap organ dalam tubuh kita. Kemarahan yang terpendam mengakibatkan berbagai penyakit seperti pusing, sakit punggung, leher, dan perut, depresi, kurang energi, cemas, tak bisa tidur, ketakutan, dan tak bahagia.
Baru-baru ini saya sempat berinteraksi dengan sekelompok mahasiswa yang mengeluhkan perasaan tertekan dan tak bahagia. Ternyata, kebanyakan dari mereka memendam berbagai kemarahan, baik kepada orang tua maupun orang-orang di sekitar mereka. Salah seorang mengaku telah 10 tahun memendam kebencian kepada wanita yang menjadi istri kedua ayahnya. Si ayah yang dijuluki orang paling sholeh di kantornya tanpa diduga mempunyai ''simpanan.'' Wanita ini kemudian dinikahinya, dan akhirnya meninggal karena stroke lima tahun lalu. Tapi, kemarahan dan kebencian si anak hingga kini belum juga mereda.
Musuh kita sebenarnya bukanlah orang yang membenci kita tetapi orang yang kita benci. Ada cerita mengenai seorang lelaki bekas tapol di zaman Orde Baru yang mengunjungi kawannya sesama eks tapol. Sambil mengobrol si kawan bertanya, ''Apakah kamu sudah melupakan rezim Orde Baru?'' Jawabnya, ''Ya, sudah.'' Si kawan kemudian berkata, ''Saya belum. Saya masih sangat membenci mereka.'' Lelaki itu tertawa kecil dan berkata, ''Kalau begitu, mereka masih memenjara dirimu.''
kita harus terus berlatih untuk mengikis sifat dendam tersebut. Sebagai ilustrasi, kita bisa belajar dari para karateka yang berhasil menghancurkan batubata dengan tangannya. Pertama kali memukulnya, bata tersebut tidak langsung hancur. Tapi, dia tak patah semangat. Diulanginya terus usaha untuk menghancurkan bata tersebut. Akhirnya, pada pukulan kesekian, pada hari kesekian, bata tersebut berhasil dihancurkan. Memang, tangannya bengkak-bengkak, tetapi dia mendapatkan hasil yang diinginkan.
Begitu pula dengan hati. Jika hati dibiarkan sensitif, maka hati ini akan mudah sekali terluka. Akan tetapi, jika hati sering dilatih, maka hati kita akan semakin siap menghadapi pukulan dari berbagai arah. Jika kita telah disakiti seseorang, kita jangan melihat orang tersebut, tetapi lihatlah dia sebagai sarana ujian dan ladang amal kita terhadap Yang Maha Kuasa. Kita akan semakin sakit, tatkala melihat dan mengingat orangnya.
Untuk mencapai kebahagiaan, kita perlu mengubah cara pandang kita. Sumber kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri, bukan di luar. Karena itu jangan terlalu memusingkan perilaku orang lain. Sebaliknya, belajarlah memaafkan. Kunci memaafkan adalah memahami ketidaktahuan. Banyak orang yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Kalaupun mereka sengaja melakukannya, itupun karena mereka sebenarnya tak tahu. Mereka tak tahu bahwa kejahatan bukanlah untuk orang lain tetapi untuk mereka sendiri.
Orang yang suka memaki dan bersikap kasar sebenarnya tak menyadari bahwa mereka sedang menzalimi dirinya sendiri. Suatu ketika ia akan kena batunya. Inilah konsekuensi logis dari hukum alam.
Mempraktikkan konsep memaafkan akan membuat hidup lebih ringan. Saya ingat, saat sedang duduk menunggu anak saya sekolah pada minggu lalu, seorang ibu yang lewat menubrukkan tasnya yang cukup berat ke kepala saya, tanpa permisi apalagi minta maaf. Orang-orang yang melihat kejadian itu menggeleng-gelengkan kepala sambil mencela kecerobohannya. Saya mencoba mempraktikkan konsep ini, dan langsung memaafkannya. Ibu itu kelihatannya sedang kalut. Tak mungkin ia sengaja menabrak saya begitu saja.
Jika kita menjadi lebih baik, Tuhan tentu akan memuliakan kita. Jika Tuhan sudah memuliakan, maka kita tidak akan menjadi hina karena hinaan orang lain. Untuk mencapai kebahagiaan, berikanlah maaf kepada orang lain. Hentikan kebiasaan menyalahkan orang lain. Ingatlah, kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Hanya Allah-lah yang Maha Suci dan Maha Sempurna. Saya menyukai apa yang dikemukakan Gerarld G Jampolsky dalam bukunya Forgiveness, The Greatest Healer of All. ''Rela memaafkan adalah jalan terpendek menuju Tuhan.'' Itulah kunci kemuliaan diri.

M. SURYO TUNGGAL 
[Read More...]


Melankoli Masa Kecil "Calon Arang"



Awalnya saya sedikit meraba-raba. Ada beberapa buku dari Sang Maestro Pramoedya Ananta Toer yang sudah rampung saya baca. Tentu saja tidak semua buku yang sudah dibaca ingat judul, warna sampul hingga penerbitnya dari mana. Buku-buku yang sudah saya baca cukup menjadi bekal diri dalam mengambil setiap keputusan dan melahirkan imaji-imaji terbaik tentang kemanusiaan dan segala kehidupannya. Tiba-tiba bebookone.com adik dari seribuserbi.com mengirim pesan singkat meminta saya untuk sedikit memberi semacam pengalaman baca dari salah satu buku Sang Maestro Sastra Indonesi, yaitu Calon Arang.


Wah, saya cukup minder jika menuliskan hal-hal tentang beliau ini. Saya meraba-raba ingatan sendiri. Apakah sudah pernah baca atau belum? Saya sanggupi saja. Dan ternyata saya sudah membacanya sejak beberapa tahun yang lalu. Mungkin karena lebih bersifat fiksi sehingga tidak begitu saya ingat benar-benar. Namun ketika disodori buku ini lagi, ada pengalaman baru dalam membaca buku ini. Bagaimanapun, ini adalah satu-satunya karya Pramoedya yang bergenre seperti ini. Beliau menyebutnya buku dongeng untuk anak-anak.

Sebagaimana yang dikatakan oleh beliau di pengantar buku ini. Dan saya kira wajib sebelum melahap buku ini, yaitu membaca pengantar penulis. Silahkan dibaca dan diresapi. Apa yang dikatakan sang penulis banyak benarnya terkait tujuan dari penulisan buku ini. Kenapa? Karena semakin lama, dunia anak-anak semakin sempit. Misalnya dalam dunia musik, anak-anak lebih suka musik orang dewasa. Itu karena tidak ada musik yang layak dan disediakan untuk anak-anak. Mungkin itu juga salah satu keresahan sang penulis. Membaca buku ini, ingatan saya membawa kepada semasa kecil dulu. Dimana ketika saya tidur di rumah nenek, dengan teduh kehangatannya, nenek membacakan dongeng tentang kehidupan binatang yang mengajarkan kepada manusia bagaimana caranya menjadi manusia dengan baik. Semoga nenek tenang di alam sana. Begitu juga orang-orang tersayang yang sudah mendahului kita. Amiin.

***

Sebagaimana tujuannya, buku ini diperuntukkan untuk menghidupkan tradisi cerita-cerita khas pengantar tidur, seperti dongeng yang selalu diceritakan oleh nenek saya sebelum tidur. Namun bagi orang dewasa, membaca buku ini juga merupakan sebuah keharusan. Karena ketika sudah dewasa dan membaca ini, akan muncul perasaan-perasaan melankolis dan mempunyai sudut pandang berbeda. Silahkan rasakan sendiri pengalaman membaca anda.

Seperti kebanyakan dongeng pengantar tidur. Pesan moral dari cerita ini bahwa kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan. Bagaimanapun kejamnya kejahatan itu, semengerikan apapun kejahatan itu, yang disini digambar seorang nenek sihir. Namun dengan kebaikan yang awalnya hanyalah nyala api kecil tentu akan menjadi besar. Karena kebaikan tidak pernah merugikan. Di titik inilah, kenapa tadi saya mengatakan bahwa cerita-cerita dongeng, meskipun fiksi. Justru mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia seutuhnya.

Untuk ringaksan ceritanya, tak elok rasanya saya memaparkan di sini. Cerita khas zaman dulu, ada balutan sejarah yang melekat dalam bangsa kita juga.

Namun ada beberapa catatan pribadi untuk buku ini. Sekali lagi saya katakan ini adalah catatan pribadi saya, pengalaman membaca pribadi saya. Boleh setuju, boleh juga tidak. Namun bisa dipertimbangkan.

Dari segi cerita, kita harus mafhum bahwa buku ini ditujukan untuk anak-anak. Kendati demikian, bagi orang dewasa sangat sayang sekali melewatkan untuk tidak membaca buku ini. Karena untuk anak-anak. Kalimat-kalimat yang digunakan penulis sangatlah jelas dan nisbi maksudnya. Tidak menggunakan analogi-analogi rumit yang butuh membaca dua kali jika tidak faham ketika hnaya membaca sekali. Kalimat yang digunakan sederhana dan tidak rumit. Namun jika anda pernah membaca novel-novel berat, membaca ini menjadi biasa, enteng dan gampang dibaca dengan cepat.

Dan ada bagian-bagian dari sub bab dalam buki ini yang tidak perlu dimasukkan pun tidak akan mengurangi isi cerita buku ini. Mungkin bagian tersebut memang sengaja dimasukkan melihat jumlah halaman buku ini sangatlah tipis. Misalnya bagian-bagian yang tidak perlu: kisah putri Empu Baradah, yaitu Wedawati dan kisag Empu Baradah yang pergi ke Bali menaiki daun nangka. Namun bagi anak-anak dengan segala ketakjuban imajinasinya, mungkin akan berbeda.

***

Namun dari kesemua ini. Buku ini tetaplah menjadi buku sastra wajib yang harus dibaca. Jangan khwatir merasa membaca buku ini hanya membuang-buang waktu. Karena membaca buku ini tidak membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak seperti ketika anda berusaha mengkhatamkan Tetralogi Buru. Ini bisa habis dengan cepat ketika anda menunggu ibu anda belanja, antri kamar mandi di kos-kosan ketika akan berangkat kuliah atau ketika anda datang sedikit awal ketika menjemput anak anda pulang dari sekolah.

[Read More...]


LANGIT DI DESA RUBUH OLEH ILMU KAUM INTELEKTUAL



Begitu pulang di bulan Ramadhan untuk berkumpul dengan keluarga di desa, Liima Intelektual Muda yang bertahun-tahun kuliah di kota segera berembug untuk mengadakan diskusi Ilmiah terhebat yang akan dihadiri oleh masyarakat desa. Mereka segera menghubungi Pak Lurah.

"Tetapi Balai Desa sudah dua bulan ini tak kami pakai. Tempat itu sudah rapuh. Kami khawatir bunyi sound system yang keras akan mempengaruhi ketahanan atapnya", jelas pak Lurah khawatir..

Namun mereka tetap bersikeras. Hingga dengan berat hati Pak Lurah mengijinkan. Undangan-pun segera disebar, dengan tema wacana yang mentereng, "Diskusi Ilmiah Bulan Ramadhan : Menggedor Tradisi Intelektual Di Desa Menuju Masyarakat Kritis, Filosofis dan Berperadaban".

Para orangtua dan masyarakat desa antusias hadir untuk melihat kepintaran Lima Intelektual Kota. Mereka duduk pada jajaran kursi yang ditata didepan, sementara masyarakat desa yang menjadi "murid" duduk lesehan pada gelaran panjang karpet merah usang.

Dan segera, diskusi yang bergemuruh di mulai. Seluruh masalah kontroversial (yang menurut mereka "urgent banget" dan masyarakat wajib segera disadarkan) dibicarakan dengan berapi-api. Suara sound system begitu keras mengalun hingga menyentuh ujung dusun. Dan benar, saking ributnya berpolemik, mereka abai terhadap suara gemeretak lamat-lamat yang berasal dari langit-langit.

> Satu menit, orang-orang desa mulai beringsut ke pinggir.
> Dua menit, para intelektual muda di depan malah hanya memandang bengong pada orang-orang yang menyingkir dari tengah ruangan.
> Dan tiga menit berikutnya atap balai desa itu ambrol. Sebagian pecahan kayu mental dari lantai menimpa beberapa orang. Tak ada korban tewas, tapi beberapa orang terluka.

Segera setelah rubuhan reda. masyarakat desa itu berjibaku untuk membersihkan tempat yang porak poranda sekaligus menolong mereka yang terluka. Anehnya, lima Intelektual Muda itu masih saja terkesima. Tercengang. Dan tak berbuat apa-apa.



"Benar-benar Ilmu yang mantab. Ilmu kalian mampu merubuhkan langit-langit balai desa sehingga menimpa tubuh kami. Kini, hanya satu pertanyaan dari kami setelah diskusimu usai, apakah tangan dan kaki kalian sigap menolong orang yang terluka diruangan ini, sesigap lidah kalian berdebat ?", tanya Pak Lurah sambil memandang takjub kepada mereka.

O, bapak .... telinga dan otak mereka sudah penuh sesak dengan wacana "Hang Hing Hog Cang Cing Cong" selama bertahun-tahun diperkuliahan. Dan oleh karenanya, indra mereka tumpul untuk selekasnya menyadari realitas, dan membaca apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh masyarakat lewat kerja nyata. Mereka semua cerdas secara kognitif, tapi mereka sungguh buta dalam hal Kecerdasan Ekologi untuk cepat menyadari dan lantas bertindak guna membantu dan merubah lingkungannya sendiri.

Syarif KBM
[Read More...]


 
Return to top of page Copyright © 2013- 2015 | Platinum Theme modification by Alfian Haris