Serambi Seribu Serbi

space disewakan

SEDIKIT MELUKIS SOSOK YANG PERNAH MELUKIS UMBU LANDU PARANGGI ITU



       Sampeyan sekarang kok jadi Neo-Anggito gitu sih? Hati-hati lho, iso-iso engko uripmu keseleo!”. Alangkah terperangahnya saya, ketika mendadak dituduh sebagai Neo-Anggito atau bahkan Ultra-neo-Anggito? Padahal saya kan sekadar melantunkan dongeng-dongeng ciptaannya 'Kiai Mbeling' itu. Saya suka mendongengkan kisah apik beliau, bukan berarti saya merampas kisah tersebut. Sebab, saya rasa memang ‘butuh separo harus’ untuk didongengkan—bila perlu berulang-ulang—untuk anak-anak negeri ini, penting sekali. Sementara, kasus Anggito yang sempat meramaikan jamak rubrik itu kan persoalan plagiarisme.

       Yakni penjiplakan yang menerjang atau melanggar haknya si pencipta karya. Artinya, disana juga ada tindak pengambilan karya orang lain yang tidak sampai melanggar aturan—mafhum mukhalafah—yaitu yang tetap mengakui dan mengatas-namakan pemilik karya tersebut. Silakan tulis karya siapa pun, asalkan akui siapa ‘ibu’ yang telah susah payah mengandung dan melahirkannya, jangan malah memperkosanya dengan cara-cara yang enggak bermutu, misal seolah-olah menjadikannya sebagai karangan atau pendapat sendiri, sehingga citra si pencipta terkubur didalam lumpur ego si perampas.

       Jadi, aksentuasinya bukan kepada penyalinannya, tapi tindak perampasan hak ciptanya. Lagipula, apa sih yang perlu dibangga-banggakan, diteriak-teriakkan, dikagum-kagumi ketika mempertontonkan hasil perampokan? Enggak ada. Yang kita butuhkan itu ilmunya, pesan-pesan moralnya, nilainya, bobot kualitasnya, isi cerdasnya, bukan embel-embel remeh yang kerap dimanipulasi dengan cara dikomersialkan atau dikomoditaskan itu. Bukan itu. Kita ini bukan sebatas bangunan atas tulang dan daging yang kesibukannya hanya makan, minum, dan ngorok. Tapi kita adalah manusia yang sangat memerlukan nilai-nilai.

       Itu masalah plagiarisme. Dan sekarang, menyoal pengalaman saya pribadi dengan karya cipta‘Kiai Mbeling’  ini, ketika bermesra-mesraan dengannya, saya sama sekali tidak merasa seperti membaca buku yang terkesan datar, yang hanya berisi se-ombyok definisi-definisi, tapi seolah beliau benar-benar hadir disampingku dan meneriaki kupingku, hampir persis ketika beliau bertutur di sejumlah kegiatan momongannya, seperti Padhang mBulan, Mocopat Syafaat, Kenduri Cinta, Gambang Syafaat, Bang-Bang Wetan, dan yang sebangsanya, lengkap dengan gaya bahasanya, mimik tubuhnya, riuh tawanya, serta segala ekspresi keakraban lainnya.

       Tidak hanya itu, kadang-kadang juga merasa mendengar romantisnya nada-nada kultural Kiai Kanjeng yang perlahan mengiringi cerita-cerita beliau. Entahlah, apakah ini imajinasi yang kubangun sendiri atau memang ruh yang sengaja di sebul-kan beliau ketika asyik merajut halaman-halaman padhang-nya, juga apakah hanya saya saja yang merasa ketelingsut dengan keadaan semacam ini, atau juga dirasakan sebagian penikmat yang lain, atau bahkan semuanya, saya tak tahu dan tak begitu bernafsu untuk tahu. Yang penting saya menikmatinya.

       Satu hal lagi, usai mencipta, para seniman berdasar eksistensial kemanusiaannya maupun berlandas panggilan kultural, makaia perlu mengungkapkan, mementaskan, dan memanggungkannya di depan orang lain. Begitu juga dengan Mbah Nun, begitu selesai melahirkan tetesan-tetesan karyanya, maka beliau perlu menyiprat-nyipratkan ke sekelilingnya, paling tidak untuk dirinya sendiri, sebagai air bening yang senantiasa menyegarkan kepala dan hati. Sedangkan saya hanyalah gadis kecil umbel-umbelan yang hobinya menyanyikan lagu kesukaannya sambil menggandeng tangan sang ibu yang hendak pergi ke pasar.

       Ya, begitulah, Mbah Nun-lah senimannya, sedangkan saya adalah gadis kecil ingusan yang tahunya hanya tertawa dan menangis.

       Ah, sudahlah.

       Sekarang saya sudah kebelet ingin ndongeng. Dongeng atau cerita yang bertutur soal menciumi dan nyunggi al Qur’an atau Kitab Suci.

       Suatu ketika, Mbah Nun bercerita mengenai tindakan ibu beliau di zaman kanak-kanak beliau dulu. Kalau al Qur’an beliau terjatuh karena kurang berhati-hati waktu berlari-lari dari rumah menuju masjid di maghrib hari, dengan wajah sedih ibu beliau menyuruh beliau mencium dan nyunggi al Qur’an itu di kepala beliau sambil membaca istighfar, minta ampun, sorry kepada Tuhan. Kemudian, sehabis tamat SMA, beliau menganggap tindakan sang ibu itu hanya suatu kekenesan atau romantisme religius ala pemeluk Islam yang fanatik.

       Tetapi, tatkala beliau ingat juga bagian masa silam yang lain, yakni ketika beliau mencuri krai (semacam mentimun) di sawah sehabis pulang sekolah, beliau berpikir lain jadinya. Perbuatan jahat beliau itu ketahuan sang ibu, dan sang ibu pun naik pitam, marah bukan main. Beliau dengan adik beliau digiring ke rumah pemilik krai itu, dan disuruh mohon ampun habis-habisan. “al Qur’an-mu jatuh dari ubun-ubunmu!” kata sang ibu, “kamu harus membayar ongkosnya dengan nderes al Qur’an tujuh kali khatam!”. Beliau pun malam itu nglembur baca al Qur’an.

       Memang mencium fisik al Qur’an makin lama makin terasa bau keringat, apak, karena sering dipakai. Sudah sobek-sobek dan nglokro. Tapi mencium ruhnya, sekarang dan nanti, esok atau lusa, minggu depan dan bulan berikut, makin semerbak kembang al Qur’an yang selalu memberi pengalaman baru. Memberi rasa baru, rasa baru yang riil. Memberi kehidupan baru. Terus-menerus. Ayat-ayat Allah itu senantiasa lahir kembali di dalam diri kita. Selalu ada gerak, dinamik, progresif, ritmik, tak mandeg, dan  tak jumud. Hanya satu ayat wujud fisiknya, tapi beratus ayat pengalaman hidup yang dianugerahkannya.
         
       Itu asal dibaca terus. Dibaca setia, didalami, dieksplorasi, diobservasi, diamati, diselidiki, dipersepsi, dan dirasai. Tetapi, kita memang harus berlindung kepada Tuhan dari orang-orang yang kepalanya pura-pura nyunggi al Qur’an, yang bibirnya pura-pura akting mencium-cipoki ayat-ayatnya, tetapi itu semata-mata demi persekongkolannya dengan sang perut, kemudian mereka nanti bagi hasil dari penipuan-penipuannya. Orang begini masih mendingan dedemit. Sebab, hantu-hantu jahat itu mana mungkin jadi menteri, gubernur, bupati, kepala bagian keuangan, camat, maupun lurah. Apalagi jadi presiden.

       Kalau kitab suci itu lepas dari tangan kita, entah karena terjatuh atau disengaja, misalnya dengan korupsi, melacur, mencuri duit iuran rakyat, memaksakan penggusuran rumah, menghukum orang lain yang tak bersalah sebagai ganti anak sendiri yang bersalah sebab melukai sahabatnya, memotong subsidi, pura-pura bikin proyek atas nama rakyat demi memperoleh keuntungan sekian persen, dan seterusnya. Kalau tangannya tetap petakilan mencuri dan korupsi sana-sini, itu namanya tak tahu malu kepada al Qur’an dan kepalanya sendiri yang sudah susah payah nyunggi. Itu namanya rai gedeg.

       Dan saat ini, zaman ini, zaman yang kondang dengan keedanannya ini, zaman yang serba canggih, zaman yang bisa dibilang untuk mewujudkan angan-angan saja cukup dengan sentilan kecil jari-jemari, zaman yang segala keperluan bisa diraih dengan sekali ucap, apakah kita masih percaya dengan ruh-ruh wangi al Qur’an atau tidak, apakah penamparan-penamparan ke pipi al Qur’an itu masih mampu menyisakan rasa malu bahkan berdosa atau tidak, apakah menciumi dan meludahi Kitab Suci itu sama saja atau tidak, apakah nyunggi dengan menendang itu ada bedanya atau tidak, apakah masih memercayai nilai-nilai atau tidak, tergantung masing-masing. Tetapi saya pribadi masih sangat percaya.


                                                                   *********


Kediri, 23 Maret 2014-ku menyanyikan keprihatinan 1970-annya.
Facebook Twitter Google+ Instagram Linkedin Path Yahoo


Responses

0 Respones to "SEDIKIT MELUKIS SOSOK YANG PERNAH MELUKIS UMBU LANDU PARANGGI ITU"

Post a Comment

 
Return to top of page Copyright © 2013- 2015 | Platinum Theme modification by Alfian Haris